Solo, Gontornews– Ust Abdurrahim Ba’asyir yang merupakan putra ketiga Abubakar Ba’asyir memaparkan, ada hal yang tak terduga berkenaan dengan stigma negatif tentang sosok ayahnya yang dikaitkan dengan terorisme. Menurutnya, stigma itu tak berpengaruh pada penerimaan santri Al-Mukmin Ngruki.
Menurutnya, saat ini santri Al-Mukmin Ngruki berjumlah sekitar 1.700. Mereka berasal dari seluruh Indonesia namun banyak didominasi santri dari Jawa, Sumatra, Kalimantan. Ada juga dari Maluku, Papua, NTT dan NTB.
Munculnya stigma itu terjadi tahun 2002 pasca Bom Bali dimana ayahnya dituduh terlibat. Padahal upaya untuk mengaitkan Bom Bali itu tak bisa dibuktikan di pengadilan. Tapi tetap saja berusaha memenjarakan Abubakar Ba’asyir menggunakan pasal yang aneh-aneh.
“Tak bisa dengan kasus bom bali, mereka memasukkan penjara dengan tuduhan berlapis mulai dari urusan KTP dan sebagainya yang mengada-ada,” tukasnya.
Selama ini, lanjutnya, tuduhan itu lebih bersifat fitnah. Ironisnya, tudingan itu digeneralisasi kepada pesantren yang dianggap sebagai sarang teroris. Stigma ini berarti lebih kepada pembunuhan karakter pesantren di mata umat. Padahal polisi atau jaksa sekalipun yang menuding tidak bisa membuktikan tudingannya di pengadilan. Oleh karena itu pihaknya akan terus melakukan pembuktian fakta sesungguhnya.
Menurutnya, munculkan stigma pesantren sebagai sarang teroris supaya umat ini takut menyekolahkan anaknya ke pesantren. Namun upaya ini tak berhasil karena jumlah santri yang masuk ke pesantren semakin banyak bahkan muncul para pejuang baru penegak syariat Islam.
Abdurrahim menegaskan, ketika banyak sekolah kekurangan murid, Pesantren Al-Mukmin malah banyak menerima murid. Menurutnya, semakin gencar diberitakan negatif di media, justru semakin banyak yang datang ke pesantren untuk menanyakan al-Mukmin. “Orang datang dari berbagai daerah rombongan dan mereka mengaku tidak percaya kepada media. Dan memang benar media itu tidak bisa dipercaya,” tandasnya. [Ahmad Muhajir/DJ]





















