Jakarta, Gontornews — Bulan Bahasa dan Sastra secara rutin diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan Oktober sejak tahun 1980 sebagai salah satu bentuk memperingati hari lahir Sumpah Pemuda yang menyepakati Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Beragam kegiatan dalam acara Bulan Bahasa sering dijadikan sebagai ajang berkarya atau berekspresi, peningkatan kualitas berbahasa Indonesia, dan perlombaan.
Taufiq Ismail, sastrawan Indonesia dalam acara, Puncak AQTION 1.0 (AQLIS Competition) Bulan Bahasa 2020, dengan tema, “Kita Indonesia, Kita Berintegritas” menuturkan bahwa para pemuda-pemudi Indonesia banyak yang lupa akan bulan bahasa ini. “Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan adalah bentuk yang harus disyukuri semua rakyat,” tuturnya Rabu, (28/10).
Nah, untuk meningkatkan minat remaja dalam bersastra, salah satu caranya melalui bidang pendidikan. Dimana sekolah dan guru berperan penting dalam menanamkan rasa cinta sastra dengan mengajak siswa untuk terbiasa mengekspresikan diri dalam bahasa lalu belajar menuliskannya lewat tulisan.
Dalam berbahasa itu bukan cuman ucapan yang keluar dari mulut, akan tetapi apa yang ada di dalam hati disampaikan dan dituliskan di atas secarik kertas. “Inilah yang harus kita ingat terus-menerus. Apa yang dituliskan itulah yang akan menghasilkan sastra,” terang sastrawan senior tersebut. Maka, pelajaran mengarang di sekolah penting sekali untuk diikuti siswa.
Pesan saya, tambah Taufiq Ismail, di usia remaja (SMP/SMA) perbanyaklah membaca dan berlatihlah menulis. “Ketika kecil, orangtua saya selalu membaca buku setiap usai makan malam, mereka juga sering mengajak saya ke toko buku, lalu sebulan sekali mempersilahkan saya membeli dua buku apa saja yang disukai,” kenang Taufiq yang kini telah menginjak usia 85 tahun tersebut. Kebiasaan untuk membaca harus ditanamkan sebagai kecintaan, sejak usia muda agar kita kelak menjadi orang terpelajar.
“Alhamdulillah meski ada sedikit kendala, namun kegiatan Bulan Bahasa dan Sastra yang diadakan perdana oleh siswa akhir AQL Islamic School ini akhirnya berjalan dengan lancar,” ulas Nurul Rizki kepada Gontornews.com. Semoga acara ini bisa terus diadakan untuk membina dan mengembangkan bahasa dan sastra Indonesia, serta bertekad memelihara semangat dan meningkatkan peran serta masyarakat luas dalam menangani masalah bahasa dan sastra. <Edithya Miranti>




















