Jakarta, Gontornews — Salah satu ujian terbesar suami adalah ketika istri yang dicintai dipanggil Sang Illahi. Namun, apa boleh dikata, setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Karena itu, keikhlasan dan ketegaran merupakan kunci agar suami bisa kuat menghadapinya.
Hal serupa juga pernah dialami Bambang Suherman yang ditinggal mati istrinya pada 17 Januari 2015 silam. “Saat pertama kali istri meninggal, pikiran saya mendadak kosong dan tak tahu apa yang harus diperbuat saat itu,” ujarnya kepada Gontornews.com.
Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi juga menuturkan kisah seorang lelaki faqih, ahli ibadah, alim, dan suka berjihad di kalangan Bani Israil. Sebagaimana dikutip Ibnul Qayyim al-Jauziyah dari al-Muwatha’ Imam Malik bin Anas, istri sang alim itu meninggal dunia.
Saking berdukanya, ia lantas mengurung diri di sebuah rumah, dan tak mau ditemui oleh siapa pun. Lalu datanglah seorang wanita yang hendak meminta fatwa kepadanya.
Berkat pertolongan teman terdekat si alim, maka ia pun diizinkan masuk. Si wanita itu lantas bertanya, “Aku meminjam perhiasan dari saudaraku dan telah aku pakai dalam waktu yang lama. Tiba-tiba si pemilik menyuruh orang untuk meminta perhiasan itu. Lalu apakah aku harus mengembalikannya?”
Sang alim menjawab, “Tentu saja.” “Tapi demi Allah SWT perhiasan itu sudah lama ada padaku,” kilah sang wanita. “Adalah haknya, maka kembalikanlah,” tegas sang ahli ibadah. “Semoga Allah SWT merahmatimu,”ungkap wanita tersebut.
Ia pun lantas kembali bicara, “Apakah engkau tidak mau mengembalikan apa yang Allah SWT pinjamkan kepadamu? Sesuatu berharga yang kini sudah diambil darimu? Sedangkan dia lebih berhak darimu?”
Mendengar pertanyaan tersebut laki-laki itu pun tersadar akan kesalahannya karena terlalu lama bersedih. Dan Allah SWT telah memberikan manfaat dari kalimat tamu wanita tersebut.
Sebab itu, saat istri meninggal dunia sebaiknya suami lebih menatap ke depan daripada hanya larut dalam kesedihan. Sambil memohon ampunan kepada Allah SWT untuk sang istri tercinta.

















