Rio De Janiero, Gontornews — Pemerintah Iran secara resmi memanggil perwakilan Brazil di Teheran, Selasa (7/1). Pemanggilan ini dilakukan setelah pemerintah Brazil mengeluarkan pernyataan dukungan terhadap Amerika Serikat dengan sebutan ‘perang melawan momok terorisme’ menyusul kematian Komandan Militer Iran, Qassem Soleimani, dalam serangan pesawat tak berawak Amerika Serikat.
Sebagaimana diketahui, pembunuhan Qassem Soleimani dipandang luas memicu peningkatan ketegangan di Timur Tengah. Hal ini tidak lepas dari peran Qassem Soleimani yang dianggap orang terkuat nomor dua di Iran setelah pemimpin besar mereka, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebaliknya, Washington justru menganggap bahwa Soleimani ditengarai sebagai teroris yang bertanggung jawab atas kematian banyak orang Amerika Serikat. Namun, warga Iran justru menyebut Soleimani sebagai pahlawan nasional dan pemakaman Soleimani dihadiri oleh ratusan ribu warga di Teheran.
“Kami memberitahu Anda bahwa Kuasa Usaha Brazil di Teheran dan perwakilan dari negara lain yang berbicara tentang peristiwa di Baghdad, dipanggil oleh Kementerian Luar Negeri Iran dalam ranah diplomati biasa,” ungkap pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Brazil sebagaimaan dilansir Reuters.
Kemlu Brazil sendiri menyebut pertemuan dengan Kementerian Luar Negeri Iran berlangsung hangat dan ramah. Tetapi, para peserta yang hadir tidak akan mengomentari hasil pertemuan tersebut.
Sementara itu, Presiden Brazil, Jair Bolsonaro, mengatakan bahwa Brazil menolak segala bentuk terorisme yang ada di dunia. Brazil pun menegaskan akan tetap menjalin hubungan dagang dengan Iran seraya ekan memanggil Menteri Luar Negeri Brazil untuk menjelaskan apa keputusan Teheran kala bertemu dengan utusan Brazil.
Selama ini, Presiden Brazil, Jair Bolsonaro, diketahui memiliki hubungan dekat dengan Pemerintah Amerika Serikat era Presiden Donald Trump dan menganggap AS sebagai prioritas diplomatik.
Dalam beberapa kesempatan, bahkan, Bolsonaro dianggap sebagai “Trump dari negara tropis” karena ide dan gaya populis mereka yang sama dan penghinaan mereka terhadap praktik politik konvensional. [Mohamad Deny Irawan]



















