Tarhouna, Gontornews — Otoritas pemerintah Libiya mengonfirmasi temuan 12 mayat dari empat kuburan tak bertanda di Tarhouna, Rabu (28/10). Temuan ini sekaligus mengonfirmasi jumlah mayat yang diketemukan di Tarhouna yang menjadi basis milisi Kaniyat yang terafiliasi dengan Haftar.
Pemerintah hasil kesepakatan nasional, Government of National Accord (GNA), telah mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi pemimpin Kaniyat di Libya Timur. Ketika Turki mendukung secara internasional, GNA mengambil alih wilayah Tarhouna pada Juni.
Saat mengambil alih wilayah Tarhouna, pasukan GNA menemukan sebuah rumah sakit berisi banyak mayat dan kuburan tak bertanda. GNA menduga bahwa hilangnya tokoh Libya terkait dengan penemuan jenazah serta kuburan tak bertanda di Tarhouna.
Biro orang hilang GNA pun melakukan penyelidikan khusus dengan menggali temuan kuburan di Tarhouna serta mengidentifikasi jenazah tersebut. GNA, kata Reuters, menemukan sebagian besar mayat di sebuah rumah sakit. Sementara puluhan jenazah lain terkonfirmasi pada sebuah galian dari kuburan tak bertanda.
Pasca penyelidikan, GNA menemukan bahwa jenazah menunjukkan tanda-tanda mengalami kekerasan. Mereka menemukan bahwa tengkorak jenazah hancur dan ada pula anggota badan yang terpotong dari jenazah yang ditemukan.
“Kuburan pertama berisi empat mayat, sejauh ini, tim otoritas masih bekerja untuk menggali kuburan,” kata Otoritas Umum untuk Riset dan Identifikasi Orang Hilang Libya, kepada Daily Sabah.
“Pekerjaan akan dimulai untuk kuburan kedua. Kami memperkirakan sejumlah mayat terkonfirmasi,” imbuhnya.
Dalam rentang April 2019 hingga Juni 2020, Pemerintah Libya mengatakan bahwa pasukan Haftar dan milisi yang terafiliasi melakukan genosida dan kejahatan perang. Pada 16 Juni, pemerintah Libya menemukan 226 mayat pada sebuah kuburan massal di Tarhouna. [Mohamad Deny Irawan]




















