Quensland, Gontornews – Kawasan terumbu karang terbesar di dunia, The Greet Barrier Reef (GBR) terancam pemutihan masal akibat pemanasan global. Sebuah penelitian yang diterbitkan jurnal internasional Nature menjelaskan bahwa terumbu karang jenis Staghorn dan Tabular mati dengan cepat akibat kenaikan suhu air laut dalam jangka waktu yang lama. Sebagaimana informasi, terumbu Staghorn dan Tabular merupakan jenis terumbu karang yang dapat tumbuh dengan cepat.
Dalam studi yang diterbitkan oleh jurnal sains internasional Nature, peneliti melakukan pengamatan udara sebagai bahan penelitian awal yang dilanjutkan dengan verifikasi video bawah air dengan menggunakan metode survei tradisional.
Science Alert melansir bahwa Penelitian tersebut berhasil mendokumentasikan fakta mencengangkan dimana 81 persen terumbu karang di GBR sebelah utara, 33 persen di sektor tengah dan 1 persen di bagian Selatan memutih. Peneliti mengakui bahwa pemutihan ini merupakan peristiwa terparah yang pernah terjadi dalam rentang waktu 2 dekade ke belakang. Penelitian ini mengukur peningkatan suhu dengan menggunakan satuan “degree heating weeks” atau (DHW).
Dengan satuan DHW itu, peneliti umumnya memprediksi bahwa semakin tinggi DHW, semakin tinggi tingkat kematian karang. Oleh karenanya, Biro Administrasi Kelautan dan Amtosfer Nasional Amerika Serikat menyarankan batas tertinggi suhu air laut di angka 4-8 DHW.
Pada tahun 2016, angka pemutihan karang berada di angka 2 DHW dan mati pada 3 DHW. Seiring dengan peningkatan suhu, sebanyaka 50 persen terumbu karang mati pada hanya 4-5 DHW. Menariknya, banyak karang yang mati tanpa mengalami pemutihan.
Ironisnya, upaya pemulihan karang terkendala waktu. Umumnya, terumbu karang tumbuh 1 cm per tahun. terlebih, peneliti juga menemukan bahwa kemampuan terumbu karang yang masih hidup dan tumbuh melemah sehingga kematian terumbu karang diprediksi akan terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang. [Mohamad Deny Irawan]



















