Ankara, Gontornews β Universitas-universitas di Turki tidak akan lagi menerima mahasiswa baru untuk jurusan bahasa Prancis. Demikian keputusan Dewan Pendidikan Tinggi Turki menyikapi perkembangan terbaru hubungan yang memans antara Turki dan Prancis.
Seperti dirilis Aljazeera, keputusan itu muncul sebagai tanggapan terhadap sebuah manifesto yang ditandatangani oleh tokoh-tokoh terkemuka Prancis, yang menyerukan penghapusan bagian-bagian tertentu dari al-Qur’an. Dan sebagai tindakan timbal balik atas “kurangnya program studi Turki di Prancis.
“Kami mengecam pernyataan kontroversial Β tentang al-Qurβan yang berasal dari Prancis. Dewan Pendidikan Tinggi, yang merupakan lembaga otonom, membuat langkah ini sebagai respon terhadap pernyataan-pernyataan itu,” kata Emrullah Isler, ketua Komite Pendidikan Nasional, Kebudayaan , Pemuda dan Olahraga di Parlemen Turki.
Isler menambahkan, tidak banyak universitas di Prancis yang mengajarkan bahasa Turki. “Kurangnya universitas di Prancis yang mengajarkan bahasa Turki adalah faktor lain di balik keputusan itu. Mereka perlu membentuk departemen Turkologi yang layak di sana.β
“Ditambah lagi, ada terlalu banyak departemen yang mengajarkan bahasa Prancis di universitas-universitas Turki,” katanya seperti dikutip Aljazeera.
Seperti diketahui, Β pada 22 April lalu surat kabar Prancis Le Parisien memuat surat terbuka yang ditandatangani oleh hampir 300 tokoh terkemuka Prancis, yang mengatakan bahwa ayat-ayat al-Qur’an menyerukan “pembunuhan dan hukuman untuk orang Yahudi, Kristen dan kafir” harus dihapus dari Kitab Suci itu, dengan alasan ayat-ayat itu “usang”. [Rusdiono Mukri]






















