Dhaka, Gontornews — Lembaga PBB untuk pendanaan anak-anak, United Nation of Children’s Fund (UNICEF), memperkirakan bahwa telah terjadi 8.428 kasus kelahiran atau 2,13 persen dari total jumlah kelahiran bayi di dunia yang terjadi pada 1 Januari 2019 di Bangladesh. UNICEF meminta Bangladesh agar memberikan hak kesehatan dan kelangsungan hidup bagi setiap bayi yang baru lahir.
Secara global, jumlah kelahiran bayi tertinggi di dunia yang terjadi pada tanggal 1 Januari 2019 dipegang oleh India dengan 69.944 kasus kelahiran yang diikuti dengan Cina (44.940 kelahiran), Nigeria (25.685 kelahiran), Pakistan (15.112 kelahiran), Indonesia (13.256 kelahiran), Amerika Serikat (11.086 kelahiran), Republik Demokratik Kongo (10.053 kelahiran) dan Bangladesh (8.428 kelahiran).
“Tahun haru ini, mari kita semua membuat resolusi untuk memenuhi hak setiap anak, dimulai dengan hak mereka untuk bertahan hidup,” tutur Wakil Direktur UNICEF, Charlotte Petri Gornitzka sebagaimana dilansir Dhaka Tribune.
“Kita bisa menyelamatkan jutaan bayi jika kita berinvestasi dalam pelatihan dan memperlengkapi petugas kesehatan setempat sehingga setiap bayi yang baru lahir berhasil dilahirkan dengan aman,” tambah Gornitzka.
Lebih lanjut, UNICEF menyebut bahwa pada tahun 2017 ada sekitar satu juta bayi yang meninggal di hari mereka dilahirkan dan 2,5 juta bayi lainnya hanya hidup di bulan pertama saja. UNICEF mencatat bahwa sebagian besar kematian bayi disebabkan oleh kelahiran prematur, komplikasi selama persalinan hingga infeksi saluran pernapasan.
Untuk menjaga bayi di awal masa kelahiran, UNICEF mengkampanyekan program bertajuk “Every Child Alive” yang menyerukan investasi untuk memberikan solusi perawatan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas bagi setiap ibu dan bayi yang baru lahir.
Investasi ini juga termasuk pasokan air bersih, listrik yang stabil di fasilitas keshatan, kehadiran peugas kesehatan yang terampil dalam membantu proses persalinan, persediaan obat-obatan yang cukup, persalitan dan kelahiran dan pemberdayaan wanita yang bergerak di pelayanan kesehatan. [Mohamad Deny Irawan]




















