Istanbul, Gontornews — Varian COVID-19 telah ditemukan di lebih dari 30 provinsi di Turki. Demikian dikatakan para ahli kesehatan Turki. “Kami telah mendeteksi varian Inggris dan Afrika Selatan, tetapi kami juga menemukan varian virus yang berasal dari Turki sendiri,” kata Prof Dr Hasan Tezer dari Dewan Sains Kementerian Kesehatan.
Ia mencatat ada sekitar 400 orang di seluruh Turki telah terjangkit varian virus.
Dia menambahkan bahwa dampak dari varian tersebut belum terlihat, tetapi jumlah infeksi dapat meningkat dalam periode mendatang. “Penyebaran varian virus bervariasi di seluruh wilayah,” kata Tezer dikutip Hurriyetdailynews.com.
Menurut Profesor Levent Akın, juga anggota Dewan Sains, varian tersebut telah terdeteksi di setidaknya 33 provinsi. Pihak berwenang sedang berupaya untuk memastikan apakah varian tersebut juga ada di bagian lain negara itu.
“Jumlah provinsi dengan varian virus mungkin meningkat karena perjalanan antarkota terus berlanjut tanpa hambatan,” Akin memperingatkan.
“Masyarakat terus melakukan perjalanan antarprovinsi untuk mengunjungi teman dan kerabatnya, sehingga kami khawatir varian virusnya bisa cepat menyebar,” ujarnya.
Sistem kesehatan Turki, untuk saat ini, mampu menangani wabah tersebut, tetapi kasus terkait varian sedang meningkat dan diperlukan upaya keras untuk membendung penyebarannya, Akın menekankan.
Profesor Mustafa Necmi İlhan, anggota Dewan Ilmu Sosial Kementerian Kesehatan, bahkan menyebutkan kondisi yang lebih mengkhawatirkan. “Varian virus mungkin telah menyebar ke semua bagian negara,” kata İlhan.
Ia menyebutkan, varian virus bisa menjadi penyebab lonjakan kasus harian baru-baru ini.
Menurutnya, terlepas dari semua peringatan dari pihak berwenang, orang-orang masih berkumpul di rumah dan toko pada akhir pekan, yang menyebabkan penularan lebih banyak. Efek dari pertemuan akhir pekan itu terlihat dalam data Kementerian Kesehatan.
“Jumlah kasus harian meningkat secara bertahap mulai dari hari Selasa dan Rabu, mencerminkan dampak dari pertemuan akhir pekan tersebut.”
Pemerintah memberlakukan jam malam hari kerja dan penguncian penuh pada akhir pekan pada Desember 2020 untuk mengendalikan wabah. Namun, rata-rata 30.000 orang melanggar jam malam dan lockdown itu setiap pekan.
Para ahli memperingatkan masyarakat cenderung mengabaikan pembatasan dan aturan lain, seperti jarak sosial dan penggunaan masker, sejak dimulainya vaksinasi massal pada 14 Januari melawan COVID-19, karena merasa telah aman.
Suntikan yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Cina, Sinovac, telah diberikan kepada hampir 3,9 juta orang, kebanyakan petugas kesehatan dan orang tua. []





















