Paris, Gontornews — Otoritas kesehatan dunia mengatakan pada 20 Agustus, negara-negara Eropa harus dapat mengatasi lonjakan kasus virus korona tanpa menerapkan kembali penguncian penuh, karena Bank Dunia memperingatkan bahwa krisis tersebut dapat mendorong 100 juta orang ke dalam jurang kemiskinan.
Lonjakan mengkhawatirkan dalam kasus-kasus yang dilaporkan pada 20 Agustus di Prancis, Italia, Spanyol, dan Jerman menunjukkan pandemi itu bangkit lagi di seluruh benua. Penyebabnya karena perjalanan, liburan musim panas, dan pesta.
Italia mencatat 845 kasus baru pada 20 Agustus, penghitungan harian tertinggi sejak Mei. Prancis melaporkan 4.700 infeksi baru – peningkatan besar dibanding hari sebelumnya. Sementara itu peningkatan kasus di Spanyol melebihi Prancis, dan Jerman mulai mengkhawatirkan peningkatan kasus sebagaimana di negara lain.
Meskipun ada peningkatan kasus, seorang pejabat tinggi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan penguncian tambahan seharusnya tidak diperlukan.
“Dengan langkah-langkah dasar nasional dan tambahan yang ditargetkan, kami berada dalam posisi yang jauh lebih baik untuk membasmi penyebaran virus lokal ini,” kata kepala cabang WHO di Eropa, Hans Kluge, kepada wartawan.
“Kita bisa mengelola virus dan menjaga perekonomian tetap berjalan dan sistem pendidikan tetap beroperasi,” tambahnya.
Pandemi virus corona telah mendorong 100 juta orang kembali ke dalam jurang kemiskinan, Presiden Bank Dunia David Malpass memperingatkan pada 20 Agustus dalam sebuah wawancara dengan AFP.
Pemberi pinjaman pembangunan yang berbasis di Washington sebelumnya memperkirakan bahwa 60 juta orang akan jatuh ke dalam jurang kemiskinan. Tetapi perkiraan baru menyebutkan, jumlah itu bisa mencapai 70 hingga 100 juta orang. Bahkan bisa lebih tinggi dari angka itu jika pandemi memburuk atau berlarut-larut. Dan itu sangat mungkin.
Sementara itu, jumlah kematian akibat virus di Amerika Latin melonjak melampaui 250.000.
Sembilan bulan setelah virus mulai menyebar ke seluruh dunia dari Cina Desember lalu, pandemi telah menghantam Amerika lebih keras daripada di tempat lain.
Amerika Latin dan Karibia mencatat hampir 6,5 juta infeksi dan 250.969 kematian pada 20 Agustus pukul 22.00 GMT. Secara global, virus tersebut telah merenggut setidaknya 788.242 jiwa.
Brasil merupakan negara yang paling parah terkena dampak di kawasan itu dengan 3,5 juta kasus dan lebih dari 112.000 kematian.
Raksasa Amerika Selatan itu berada di urutan kedua setelah Amerika Serikat sebagai negara yang paling terpukul di dunia.
Sementara itu Peru telah mencatat lebih dari 26.000 kematian.
Virus telah membuat ekonomi Peru terpukul. Namun, kerusakan ekonomi tidak hanya akibat virus tetapi juga dari penguncian yang sebagian besar menghentikan aktivitas bisnis di seluruh dunia.
Amerika Serikat โ tempat 174.000 orang telah meninggal karena virus – terus menanggung beban kesehatan dan mengalami kejatuhan ekonomi yang suram.
Jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim pengangguran setiap pekan mencapai satu juta jiwa, kata pejabat AS pada hari Kamis, meningkat dari angka pekan sebelumnya.
Jerman perlu mengambil lebih banyak utang pada 2021 untuk mengurangi dampak virus korona terhadap ekonomi, kata Menteri Keuangan Olaf Scholz.
“Tahun depan kami akan terus dipaksa untuk menangguhkan aturan utang dan menghabiskan dana yang cukup besar untuk melindungi kesehatan warga dan menstabilkan ekonomi,” kata Scholz dalam sebuah wawancara dengan grup media Funke, merujuk pada kebijakan Jerman untuk menjaga keseimbangan anggaran.
Pemerintah telah menjanjikan bantuan lebih dari satu triliun euro untuk melindungi perusahaan dan warga negara dari dampak pandemi, termasuk melalui pinjaman, hibah, dan program lain. Tren mengkhawatirkan muncul di India ketika sebuah studi baru menunjukkan lebih dari seperempat dari 20 juta orang Delhi mungkin telah terinfeksi tanpa menunjukkan gejala.
Angka tersebut menambah perlunya segera menemukan vaksin untuk virus tersebut, yang telah menginfeksi lebih dari 22 juta orang dan membunuh ratusan ribu sejak pertama kali muncul di Cina akhir tahun lalu.
Sementara itu Rusia mengumumkan pada 20 Agustus bahwa pihaknya melakukan ujicoba vaksin temuannya, yang dikenal sebagai Sputnik V, pada lebih dari 40.000 orang. ย Para pejabat Rusia memuji ย keberhasilan itu walaupun para ahli kesehatan dunia mempertanyakan ujicoba yang dilakukan Rusia.
Beberapa obat atau vaksin mendekati fase pengujian massal, dan negara-negara di seluruh dunia telah memesan jutaan dosis sebelumnya.
UE mengatakan pada 20 Agustus, pihaknya telah menyelesaikan pembicaraan dengan perusahaan farmasi Jerman untuk memesan 225 juta dosis vaksin potensial.
Presiden Prancis Emmanuel Macron memuji kerjasama Eropa dalam masalah ini dan mengatakan dia berharap vaksin akan tersedia dalam beberapa bulan ke depan.
โIni tidak akan menyelesaikan masalah dalam beberapa pekan ke depan, tetapi beberapa bulan ke depan,โ katanya.
Namun, sementara vaksin masih diujicoba, ย pemerintah mencoba mengendalikan penyebaran virus melalui tindakan jarak sosial, karantina, larangan perjalanan, dan pembatasan aktivitas bisnis. []





















