Kinshasa, Gontornews — Pemerintah Republik Demokratik Kongo mengonfirmasi kematian 10 orang dan 141 orang terinfeksi akibat wabah monkeypox, Selasa (1/9). Pejabat kesehatan provinsi Sankuru, Dr Aime Alengo, mengatakan mayoritas pasien terinfeksi berusia di bawah 5 tahun.
“Dari pekan pertama pengawasan hingga pekan ke-33, kami mencatat 141 kasus dikonfrmasi dengan 10 kematian,” kata Dr Aime Alengo kepada situs berita lokal Actualite.
“Kami merupakan satu dari sekian negara Afrika yang memiliki kasus penyakit ini,” tambah Alengo sebagaimana dilansir Anadolu.
Dalam buletin darurat kesehatan WHO menyebut negara-negara Afrika membutuhkan dana untuk menyelesaikan wabah monkeypox. “Satu tantangan besar pada keadaan darurat saat ini termasuk memperoleh dana untuk menanggapi wabah yang berlangsung di negara ini,” kata WHO.
Virus monkeypox merupakan jenis virus ortopoks penyebab penyakit dengan gejala mirip cacar namun tidak parah. Penyakit cacar di Afrika berhasil diberantas pada tahun 1980, sementara virus monkeypox masih terus menyebar dan terjadi di negara-negara Afrika Tengah dan Barat.
WHO menyebut media penyebaran virus monkeypox terjadi dari hewan pengerat dan primata ke manusia. Namun, dalam beberapa kasus, virus tersebut juga disebarkan akibat interaksi dari manusia ke manusia.
Sementara di negara-negara Afrika Tengah sedang memerangi wabah campak dan pandemi virus korona. Pada pekan ke-32, tujuh kematian dari 418 kasus campak di Afrika Tengah terkonfirmasi. Sebagian besar kasus terjadi di Sankuru dan Ubangi Selatan, Republik Demokratik Kongo.
Rasio kematian akibat campak tertinggi terjadi di Maniema dan Sankuru sejak 2019. Sebanyak 380.766 kasus campak dengan 7.018 kematian terkonfirmasi di negara tersebut. [Mohamad Deny Irawan]





















