Yerusalem, Gontornews – Warga Palestina memperingatkan Presiden AS, Donald Trump, untuk tidak memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. Sebab, Yerusalem Timur merupakan ibukota masa depan negara Palestina.
Peringatan tersebut muncul saat Trump dijadwalkan memutuskan pada awal minggu depan, apakah akan memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Pada hari Jumat muncul laporan bahwa Trump sekali lagi menunda keputusan untuk memindahkan kedutaannya di Israel. Namun mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, merupakan langkah yang akan mengulangi kebijakan AS yang telah berlangsung lama dan memicu ketegangan di Timur Tengah.
Sekretaris Jenderal Komite Eksekutif PLO, Saeb Erekat, mengatakan dia telah berbicara dengan para pemimpin Arab, yang menyampaikan pesan yang sama “bahwa Yerusalem adalah jalur merah, tidak hanya untuk orang-orang Palestina tapi juga untuk orang Arab, Muslim dan Kristen di mana pun”.
Berbicara kepada Aljazeera pada hari Jumat dari Virginia, AS, Erekat mengatakan,”Setiap orang telah memberi tahu pemerintah AS bahwa Yerusalem bukan hanya sebuah pertanyaan Palestina, ini adalah pertanyaan Arab, Islam dan Kristen.”
“Janji-janji Trump yang dibuat selama kampanye pemilihan presiden merupakan masalah internal AS atau orang lain … tapi ini bukan masalah kami.”
“Ini adalah masalah yang sangat besar. Menyentuh Yerusalem, menyentuh Masjid al-Aqsha, menyentuh Gereja Makam Suci, ibarat bermain dengan api.”
Erekat mengatakan, “Tidak ada artinya bagi sebuah negara Palestina tanpa Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.”
Dalam sebuah pernyataan ke kantor berita resmi Wafa Palestina, Nabil Abu Rudeina, jurubicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas, mengatakan bahwa pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibukota Israel dan pengalihan kedutaan AS ke Yerusalem akan sama-sama berbahaya bagi nasib proses perdamaian, dan mendorong kawasan ini menjadi tidak stabil.
“Pengakuan Amerika atas Yerusalem sebagai ibukota Israel menghancurkan proses perdamaian,” katanya kepada kantor berita AFP.
Orang-orang Palestina melihat Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina masa depan, dan dengan keras menentang setiap perubahan yang dapat dianggap melegitimasi pendudukan dan aneksasi Israel atas Yarusalem timur. [Rusdiono Mukri]



















