Christchurch, Gontornews — Imam sholat Jum’at di Masjid Al-Noor, Christchurch, Selandia Baru, Gamal Fouda, mengatakan bahwa seluruh masyarakat Selandia Baru mengecam tindakan Islamophobia. Baginya, dengan menggunakan pendekatan cinta dan kasih sayang, Selandia Baru tidak mudah dipatahkan.
“Kami bersama ratusan dan ribuan warga di sini bersatu untuk satu tujuan yakni bahwa kebencian tidak dibenarkan, dan cinta adalah solusi kita,” kata Imam Gamal Fouda yang memimpin sholat Jum’at di Masjid Al-Noor sebagaimana dilansir Reuters.
Tidak lupa, Gamal Fouda mengucapkan terima kasih dengan langkah yang ditempuh oleh Perdana Menteri Jacinde Ardern dalam menangani kasus ini. Penanganan kasus yang ditujukan oleh Ardern tidak pelak menjadi pembelajaran penting bagi para pemimpin dunia tentang bagaimana cara menanganai kasus terorisme yang menjadikan muslim sebagai korban.
“Itu telah menjadi pelajaran bagi para pemimpin dunia,” tambah Fouda.
Pun dengan Islamophobia, Gamal Fouda juga mengatakan bahwa hal tersebut adalah nyata dan telah menyebabkan banyak umat muslim yang terbunuh akibat stigma berbahaya yang mengglobal tersebut.
“Islamophobia itu nyata. Ini adalah kampanye yang menargetkan orang-orang agar bersikap tidak manusiawi dan takut terhadap muslim. Takut dengan apa yang mereka kenakan, takut dengan pilihan makanan yang mereka makan, takut pada bagaimana cara kami beribadah dan takut pada bagaimana cara kami mempraktikkan iman kita,” tegas Fouda.
Dalam pelaksanaan sholat Jum’at (22/3) kali ini, seluruh elemen masyarakat Selandia Baru melakukan aksi solidaritas untuk mendoakan para korban penembakan di Masjid Al-Noor, Christchurch, Selandia Baru tepat satu minggu yang lalu.
PM Jacinde Ardern dan sejumlah jajaran pemerintahan menggunakan jilbab hitam dan jas hitam serta mawar merah di seragam mereka sebagai bentuk belasungkawa. Tidak hanya itu, masyarakat Selandia juga melakukan hal serupa dan mengheningkan cipta selama 2 menit di tempat mereka berada seperti di sekolah, restoran hingga kantor.
“Kami menggunakan jilbab untuk menunjukkan dukungan, cinta dan solidaritas kami dan berharap bahwa aksi kami menunjukkan solidaritas sebagai wanita muslim. Bahwa mereka menyatu dengan kami,” pungkas salah seorang warga Selandia Baru, Robyn Molony (62), yang melakukan aksi solidaritas di Hagley Park. [Mohamad Deny Irawan]





















