Jenewa, Gontornews — Badan kesehatan dunia, WHO, Senin (30/1/2023), menyerukan investasi yang lebih besar dalam memerangi penyakit tropis yang terabaikan atau Neglected Tropical Disease/NTD. Badan kesehatan PBB tersebut mencatat ada lebih dari 1,6 miliar orang di dunia yang membutuhkan pengobatan akibat terkena penyakit NTD seperti demam berdara, kusta dan rabies.
Banyak pihak menganggap penyakit tersebut terabaikan karena hanya mendapatkan manfaat dana yang terbatas. WHO mengatakan NTD secara tidak proporsional mempengaruhi kelompok masyarakat termiskin dengan akses air, santiasi dan perawatan kesehatan yang tidak memadai.
Direktur departemen NTD WHO, Soce Fall, mengatakan penyakit NTD telah diabaikan karena justru karena dianggap tidak mempengaruhi negara maju. Sebagai perbandingan adalah rendahnya dana penanganan penyakit cacar monyet yang menyebar hingga ke luar Afrika.
“Tingkat investasi yang dibutuhkan, masih jauh dari yang diharapkan,” kata Fall.
“Kita perlu melindungi orang-orang di mana pun mereka berada dan apa pun kondisi sosial mereka,” sambungnya sebagaimana dilansir Reuters.
Pada tahun 201, sekitar 1,65 miliar warga dunia membutuhkan pengobatan untuk setidaknya satu penyakit NTD. Perinciannya, 857 orang berada di Asia Tenggara dan 584 juta berada di Afrika.
Meski demikian, angka ini turun 80 juta dari tahun 2020 dan turun secara konsisten sejak WHO mengonfirmasi 2,19 miliar orang yang menderita setidaknya 1 penyakit NTD pada tahun 2010.
WHO juga mencatat 16 negara penyumbang 80 persen beban NTD global seperti Republik Demokratik Kongo, Mesir, Ethiopia, India, Nigeria, Pakistan, Filipina dan Tanzania.
“Di seluruh dunia, jutaan orang telah terbebas dari beban penyakit tropis yang terabaikan,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
“Kami masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kabar baiknya adalah kami memiliki alat dan pengetahuan, tidak hanya, untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah penderitaan tetapi juga untuk membebaskan seluruh komunitas dan negara dari penyakit ini,” tutup Tedros. [Mohamad Deny Irawan]




















