Jenewa, Gontornews — Badan kesehatan dunia, WHO, Senin (18/7/2022), mengonfirmasi dua kasus kematian akibat virus Marburg di Ghana. Otoritas pelayanan kesehatan Ghana mengatakan laboratorium telah mengonfirmasi positif kasus virus Marburg pada dua pria Ghana berusia 26 tahun dan 51 tahun yang meninggal bulan lalu. Otoritas setempat lantas mengisolasi kontak almarhum meski belum ada yang menunjukkan gejala.
WHO mengatakan virus Marburg memiliki tingkat kematian rata-rata 50 persen di antara manusia dan menyebabkan demam berdarah parah.
Sky News menyebut kelelawar buah sebagai penyebar virus Marburg. Virus ini menular melalui cairan tubuh dan kontak dengan bahan-bahan seperti tempat tidur dan pakaian.
Pemerintah Ghana pun mengonfirmasi bahwa penemuan dua kasus kematian ini menjadi yang kedua di Afrika Barat. Kasus kematian virus Marburg terkonfirmasi, untuk pertama kali, tahun lalu di Guinea. Sejak itu, tidak ada kasus virus Marburg lain yang teridentifikasi.
“Otoritas kesehatan (Ghana) telah merespons dengan cepat dan bersiap untuk kemungkinan munculnya wabah (Marburg),” ungkap Kepala WHO untuk regional Afrika, Matshidiso Moeti.
“(Sikap) ini bagus karena tanpa tindakan segera dan tegas, (penyebaran virus) Marburg bisa lepas kendali dengan mudah,” sambung Moeti.
WHO menambahkan pasien yang terinfeksi virus ini menunjukkan sejumlah gejala seperti demam tinggi, sakit kepala parah hingga nyeri otot. Tidak hanya itu, WHO juga mengonfirmasi jika pasien akan mengalami diare parah, sakit perut, kram perut, mual, muntah.
Pada hari ketiga, pasien Marburg akan mengalami pendarahan parah. Sedangkan pada hari kelima dan ketujuh, ada kemungkinan pasien mengalami sejumlah pendarahan di hidung, gusi hingga vagina. Setelahnya, pada hari ke delapan atau ke sembilan, pasien akan kehilangan banyak darah, syok dan, biasanya, berakhir dengan kematian.
Sejumlah obat-obatan dan terapi kekebalan untuk mengobati virus Marburg terus dikembangkan meski belum ada vaksin yang tersedia. Namun, rehidrasi secara dini dan pengobatan gejala dapat meningkatkan kemungkinan pasien untuk bertahan hidup. [Mohamad Deny Irawan]




















