Jakarta, Gontornews — Demi mendorong pengarusutamaan pendidikan kebencanaan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meluncurkan Centre of Excellence kebencanaan, Rabu (9/1). Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan kemanusiaan LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti, berharap program ini dapat meningkatkan informasi serta pengetahuan masyarakat tentang kebencanaan.
“Center of Excellence ini akan menjadi wujud pengalaman panjang kegiatan penelitian LIPI di bidang kebencanaan,” ungkap Tri Nuke Pudjiastuti di Jakarta sebagaimana dilansir laman LIPI.go.id.
Sebagaimana diketahui, sepanjang akhir tahun 2018 hingga awal tahun 2019 ini, Indonesia dihantam sejumlah bencana alam yang menewaska ribuan warga dan puluhan bahkan ratusan ribu lainnya mengungsi meninggalkan kampung halaman mereka.
Beberapa bencana alam yang terjadi di Indonesia tepat jelang pergantian tahun diantaranya yaitu bencana gempa-tsunami-likufaksi di Palu, Donggala dan Sigi, tsunami akibat erupsi Anak Gunung Krakatau di Banten dan Lampung, bencana longsor yang mengubur 30 rumah di Cisolok dan yang terbaru adalah Gunung Agung di Bali yang kembali mengeluarkan lava pijar.
Lebih lanjut, LIPI menyatakan bahwa upaya mitigasi serta pengurangan risiko kebencanaan melalui pendidikan kebencanaan tidak bisa dilakukan oleh satu atau dua pihak saja melainkan perlu melibatkan banyak pihak.
“BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sudah melakukan tanggungjawabnya terkait sistem peringatan dini serta upaya penanggulangan bencana. Namun, pelru tanggungjawab lebih menyeluruh di semua level (masyarakat dan pemerintah).
“Program ini mendorong agar materi siaga bencana masuk dalam kurikulum pendidikan formal. Kami juga mendesain agar masyarakat mendapatkan sosialisasi kesiapsiagaan bencana melalui saluran-saluran informal,” tutup Tri Nuke. [Mohamad Deny Irawan]



















