Oleh Prof Dr H Din Syamsudin MA, Ketua Dewan Pertimbangan MUI
Catatan yang dapat digambarkan dalam dua kali debat Capres/Cawapres menjelang Pemilihan Presiden/Wakil Presiden (Pilpres) tahun 2019 tampaknya kurang bermutu, kurang bernas, dan hanya menciptakan suasana kehidupan dialektika di antara pendukung fanatisme politik. Fanatisme pendukung kurang didasari pada literasi politik, pada kecerdasan politik yang bertumpu pada informasi, pengetahuan. Tapi lebih karena emosi.
Sebagian anak bangsa buta aksara politik, dan para pendukung terutama anak-anak muda lebih mengedepankan emosi. Bahkan sebagian besar tidak memiliki pengetahuan yang dalam dan utuh mengenai calon yang akan dipilih.
Kitapun banyak terjebak fanatisme absolut dan akhirnya bermain ‘pokoke‘ apabila kepentingannya terlanggar, dan menyayangkan adanya pihak yang mendengungkan dan menyuarakan kata-kata perang total di dua bulan menjelang pencoblosan bulan April mendatang.
Terkait perdebatan yang terjadi pada debat Capres/Cawapres lalu, sepertinya kurang meletakkan visi kebangsaan. Harusnya pemimpin yang akan tampil memimpin bangsa dan negara ini harus berorientasi pada cita-cita nasional dan kebangsaan yang telah diletakkan oleh pendiri bangsa. Sehingga tidak perlu ada lagi visi kebangsaan yang baru, kecuali visi strategis dalam mewujudkan visi dan cita-cita nasional kebangsaan. Kita perhatikan, yang saat ini terjadi pada wilayah kebangsaan, seringkali terjebak oleh pernyataan-peryataan yang hanya bersifat normatif.
Indonesia menginginkan dan membutuhkan pemimpin otentik. Bukan pemimpin kosmetik. Pemimpin dengan kesejatian dan kejujuran. Kita tak mungkin jujur pada rakyat jika tak jujur pada diri sendiri. Sisa waktu menuju Pilpres nanti hendaknya kita mendorong setiap paslon Capres/Cawapres untuk sedikit bicara visi kebangsaan yang lebih otentik, berhenti pada retorika dan kosmetik politik serta paparan angka-angka yang tidak riil.
Isu strategis yang dibangun dengan sisa waktu yang ada dengan literasi politik yang cerdas dan aktual, melihat cita-cita nasional kita sebagai bangsa yang besar, yang merdeka, adil, dan makmur secara kontekstual sejalan dengan geo politik, geo ekonomi yang diselaraskan kembali dengan kedaulatan negara dan bangsa yang kini tengah rapuh. Capres/Cawapres masih memiliki cukup waktu secara sejati dan spontan untuk merefleksikan pemikiran, ide, dan gagasannya dalam gatra politik bagi bangsanya.
Indonesia harus menjadi pemain utama (key player) dalam perubahan dunia.
Kita sebagai bangsa seolah-olah tak bisa menjadi pemain utama dalam menghadapi persoalan yang sifatnya global. Hal inilah yang harus direvisi oleh calon pemimpin yang akan datang, yang dapat membawa Indonesia tangguh di dalam negeri dan internasional. Menyikapi ketatnya dukung mendukung yang sudah demikian kental di masyarakat, sebaiknya masyarakat tidak usah bersikap berlebihan dalam mendukung Capres-Cawapres. Sebab, politik bersifat sangat cair. Sikap politikus tidak abadi dan bisa berubah setiap saat.
Mengutip kalimat bijak Ali bin Abi Thalib RA yakni: “Cintailah kekasihmu, cintailah paslon presiden-wakil presiden pilihanmu sedang-sedang saja karena boleh jadi suatu waktu engkau akan membencinya dan bencilah. Musuhilah lawan politikmu sedang-sedang saja, karena boleh jadi suatu waktu dia akan menjadi orang yang kau cintai.”
Sebagai manusia yang telah diberikan Allah kecerdasan, bahwa tafsir pilihan pemimpin tidak perlu dibuka secara transparan tapi bisa dilihat dengan isyarat ke mana pilihan itu hendak berlabuh. Pilpres 2019 tidak membuat bangsa Indonesia terbelah. Oleh karena itu harus ada yang berdiri di tengah saat ada dua kubu yang saling bertentangan, dan saya ingin menyisakan energi dan harapan negara menggalang kekuatan tengah bagi bangsa ini. Jadi, perlu ada yang berada di posisi penengah tadi itu. n





















