Manila, Gontornews — Kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan akhirnya membebaskan sepuluh 10 Awak kapal Brahma 12 asal Indonesia pada Minggu (1/5) siang waktu setempat. Kepala Polisi Sulu Superintenden Wilfredo Cayat mengkonfirmasi bahwa para sandera itu dibebaskan di depan rumah Gubernur Sulu Totoh Tan 2. “Kami diberitahu ada orang-orang tak dikenal yang men-drop warga Indonesia di depan rumah Gubernur Sulu (Abdusakur) Totoh Tan (II),” ungkapnya.
Sepuluh ABK ini kemudian dibawa ke pangkalan militer Zamboanga untuk diterbangkan ke Jakarta dan dijadwalkan mendarat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, sekitar pukul 23.30 WIB, Minggu. 10 WNI itu merupakan awak kapal tug boat Brahma 12 yang menarik kapal tongkang Anand 12 yang berisi 7.000 ton batubara. Kapal mereka dibajak pada 26 Maret 2016.
Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein selaku negosiator dalam upaya pembebasan WNI, seperi dilansir antara mengatakan, pembebasan 10 WNI ini dilakukan atas kerja sama intelijen TNI dengan intelijen tentara Filipina. Selaku pihak yang mewakili perusahaan PT Patria Maritime Lines, dirinya telah melakukan negosiasi sejak 27 Maret 2016.
Negosiasi terus dilakukan dengan pendekatan atas nama perusahaan dan mendapat bantuan dari pihak lokal di Filipina. Dalam negosiasi ini, pihaknya juga melibatkan Gubernur Sulu Abdusakur Tan II yang merupakan keponakan pimpinan Moro National Liberation Front (MNLF) Nur Misuari karena penculiknya Al Habsyi Misa merupakan mantan supir dan pengawal saat menjadi Gubernur Otonomi Muslim in Mindanao atau ARMM pada 1996-2001. “Maka, saya sebagai wakil perusahaan meminta bantuannya untuk membujuk sang penculik WNI, dan berhasil membujuknya,” kata Kivlan.
Sementara itu, Badan Intelijen Strategis (Bais) dan intel Filipina juga melakukan pendekatan ke kepala desa, camat, walikota dan gubernur Sulu untuk meminta para sandera dbebaskan. Dengan tekanan dan bujukan termasuk kemungkinan akan dilakukan serangan militer lebih besar, akhirnya para penculik melepaskan sandera di tempat gubernur Sulu. “Maka, saya sebagai wakil perusahaan meminta bantuannya untuk membujuk sang penculik WNI, dan berhasil membujuknya,” kata Kivlan.
Saat ini Kivlen tengah mengupayakan pembebasan empat WNI awak kapal TB Henry yang juga disandera perompak di Filipina yang sudah diketahui letak posisinya. “Saya sudah kontak dengan yang pegang empat orang itu. Semoga bisa kita bebaskan,” ungkap pria yang saat ini masih di Filipina ini.
Dari identifikasi sementara, para sandera yang dibebaskan yaitu Peter Tonson, Julian Philip, Alvian Elvis Peti, Mahmud, Surian Syah, Surianto, Wawan Saputria, Bayu Oktavianto, Reynaldi dan Wendi Raknadian. Dengan demikian kelompok Abu Sayyaf masih menahan 13 orang diantaranya empat warga Malaysia, Jepang, Belanda, Kanada, Norwegia dan Filipina.
Untuk itu, mantan Kepala Staf Kostrad ini meminta agar tidak ada upaya-upaya yang justru mengacaukan perundingan yang saat ini sedang berjalan. “Apalagi pihak-pihak yang hanya ingin mencari nama,†tutur pria yang mengkonfirmasi pembebasan tanpa tebusan uang.
Dalam waktu dekat tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Filipina juga dijadwalkan akan bertemu di Jakarta pada (5/5a) untuk membahas keamanan jalur kapal di perairan antara ketiga negara tersebut. Â Â [Ahmad Muhajir/Dedi JUnaedi]






















