New Delhi, Gontornews — Setidaknya 100 pengungsi etnis Rohingya terdampar dengan sebuah kapal di Kepulauan Andaman India. Dari jumlah tersebut, 16-20 pengungsi mungkin meninggal dunia karena kehausan dan kelaparan atau tenggelam.
Kapal yang terdampar tersebut itu berhasil ditemukan oleh lima kapal milik pemerintah India pada Selasa 19 Desember 2022 malam waktu setempat.
“Kami memperkirakan bahwa, mungkin, sebanyak 20 orang telah meninggal. Beberapa dari mereka (meninggal) karena kelaparan, kehausan dan melompat ke laut karena putus asa. Ini benar-benar mengerikan dan keterlaluan,” kata Direktur Proyek Arakan, Chris Lewa, kepada Reuters.
Priyali Sur, seorang aktivis pemberi advokasi hak-hak pengungsi berbasis di New Delhi, mengatakan bahwa situasi di atas kapal semakin memburuk.
“Saya menghubungi orang-orang di atas kapal pada 7 Desember, saat itu dua orang anak telah meninggal dunia. Kami mendapat sebuah laporan, yang belum dapat dikonfirmasi, tentang dua orang yang mati melompat ke air karena putus asa,” kata Priyali kepada Al Jazeera.
“Sudah 25 hari mereka berada di laut. Mereka kehabisan makanan dan air minum,” sambungnya.
Sementara itu, kelompok kerja Rohingya dari Asia Pacific Refugee Rights Network, mengatakan para pengungsi Rohingya tersebut terkatung-katung selama lebih dari dua pekan. “Kami mendengar tadi malam ada beberapa kapal India yang mendekati kapal. Jadi kami sedang menunggu pembaruan sekarang,” kata Lilianne Fan, ketua rombongan pengungsi Rohingya di kapal.
“Kami berharap Angkatan Laut India atau penjaga pantai berhasil menyelamatkan dan menurunkan kapal itu secepat mungkin. Orang-orang ini telah terapung-apung di kapal yang rusak selama lebih dari dua pekan tanpa makanan dan minum. Kami juga mendengar bahwa 16 orang mungkin telah meninggal (di atas kapal),” sambung Lililane.
Seorang pengungsi Rohingya di kamp pengungsi Cox’s Bazar Bangladesh, Muhammaed Rezuwan Khan, melaporkan bahwa saudara perempuannya, Fatim Un Nisa dan putrinya yang berusia lima tahun, Umi Salima, berada di antara orang-orang yang terdampar di atas kapal.
“Dia meninggalkan kamp di Cox’s Bazar pada 25 November. Dia berjuang di sini sendirian dengan dua putri, salah satu putrinya bersama kami. Kami juga mengetahui bahwa banyak orang telah meninggal dan mereka kehabisan kebutuhan pokok. Mereka kelaparan dan situasinya sangat mengerikan. Kami sangat prihatin dengan kehidupan mereka,” kata Khan kepada Al Jazeera melalui sambungan telepon.
Khan meminta masyarakat internasional untuk bergerak maju untuk menyelamatkan nyawa para pengungsi. [Mohamad Deny Irawan]


















