Tangis KH Hasan Abdullah Sahal tak terbendung ketika beliau mengantarkan kepergian almarhum Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi MA di Masjid Jami’ Gontor. Tangis itu, saya yakin, bukan semata karena kehilangan seorang saudara seperjuangan, tetapi lebih dalam: karena kesadaran akan beratnya amanat yang terus harus dipikul.
Amanat untuk melanjutkan estafet kepemimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, sebagai kesinambungan dari kepemimpinan para pendiri sebelumnya.
Bagi saya, peristiwa itu pemandangan yang tidak lazim. Sebab biasanya, jabatan disambut dengan senyum kebanggaan, bahkan tawa bahagia. Namun di Gontor, amanat justru disambut dengan air mata: air mata kesadaran, bukan kelemahan.
Gontor, yang didirikan pada tahun 1926, sejak awal telah diniatkan oleh para pendirinya untuk diwakafkan. Namun niat itu baru terwujud pada tahun 1958, tiga puluh dua tahun setelah Pondok ini berdiri. Almarhum Mbah Sahal menjelaskan bahwa penundaan itu bukan tanpa alasan: para pendiri menunggu kesiapan para alumninya untuk memikul amanat besar tersebut.
Memang, yang memikul amanat itu alumni. Sebab amanat hanya layak dipikul oleh mereka yang benar-benar memahami ruh, nilai, dan cita-cita Pondok Modern Darussalam Gontor. Ini dilakukan agar Gontor tidak mengulangi kesalahan sejarah, seperti yang dialami Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswa, ketika amanat diserahkan kepada pihak yang tidak memahami secara utuh cita-cita pendirinya.
KH Hasan Abdullah Sahal mengetahui dengan sangat jernih apa yang menjadi cita-cita Trimurti. Maka melanjutkan dan memikul amanat itu bukanlah perkara ringan, melainkan perjuangan batin yang panjang.
Jejak Peninggalan
Dalam rangka peringatan 100 tahun Gontor, kata _legacy_ berulang kali dilontarkan. Legacy, warisan karya, sebagai jejak amanat jabatan yang telah dipikul. Jika dikaitkan dengan sambutan KH Hasan Abdullah Sahal, legacy itu bukan sekadar capaian, tetapi saksi hidup bahwa amanat telah dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Legacy (warisan/peninggalan) dan amanat merupakan dua konsep yang saling berkaitan. Keduanya berbicara tentang nilai yang diturunkan lintas generasi. Legacy berfokus pada hasil usaha, nilai hidup, dan karya yang ditinggalkan. Sedangkan amanat berfokus pada tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan melanjutkan nilai tersebut. Keduanya bertujuan sama: memastikan keberlanjutan nilai.
Memasuki usia 100 tahun, Gontor tampaknya harus semakin meneguhkan empat pilar acuannya: Al-Azhar, dengan sistem wakafnya yang asetnya mampu menopang kepentingan internal dan eksternal; Aligarh, dengan pembaruan sistem pendidikan dan tenaga pengajarnya yang tak pernah berhenti berinovasi hingga terus melahirkan wacana dan solusi; Syanggit, dengan keikhlasan dan kedermawanan para pengasuhnya, yang menyadari sepenuhnya bahwa kekuatan pendidikan terletak pada uswatun hasanah secara total; dan Santiniketan, dengan kesederhanaan, ketenangan, dan kedamaian yang memanusiakan pendidikan.
Legacy adalah jejak berharga, berupa nilai, gagasan, dan dampak tindakan, yang diupayakan dan ditinggalkan untuk generasi mendatang agar menjadi abadi. Ia melampaui kekayaan material, berakar pada dampak positif dan reputasi moral yang menjadi sumber kebanggaan. Membangun legacy bukan sekadar tugas pemimpin, melainkan kehormatan dan tanggung jawab sejarah.
Sebagai pemegang amanat, membangun legacy bukanlah pekerjaan administratif, tetapi panggilan jiwa. Ia menuntut perjuangan panjang demi pencapaian yang bukan hanya menginspirasi generasi penerus, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas. Legacy tidak hanya terukir dalam daftar prestasi, melainkan dalam jejak perubahan yang ditinggalkan di dunia.
Kebanggaan Sebagai Kunci Pendidikan
Selama memegang amanat, upaya meninggalkan sesuatu yang layak dibanggakan tampaknya menjadi prioritas utama. Sebab mendidik, pada hakikatnya menanamkan kebanggaan. Kebanggaan adalah motivator intrinsik yang sangat kuat dalam pendidikan, baik bagi anak didik maupun pendidik. Rasa bangga atas pencapaian akademik menumbuhkan kepercayaan diri dan mendorong usaha yang berkelanjutan.
Bagi pendidik, kebanggaan terhadap profesinya melahirkan dedikasi, inovasi, dan kesungguhan dalam pembentukan karakter. Bagi anak didik, kebanggaan atas pencapaian membangun identitas positif dan mendorong mereka melampaui batas kemampuan dirinya. Bagi pendidik, kebanggaan tumbuh dari kesadaran akan dampak positif yang ditanamkan pada murid dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Mengajar pun menjadi panggilan mulia, bukan sekadar pekerjaan.
Kebanggaan mendorong guru menjadi pembelajar sepanjang hayat, terus memperbarui wawasan dan berinovasi. Ia menciptakan ikatan kuat antarsesama pendidik, menumbuhkan kolaborasi, dan membangun atmosfer pendidikan yang sehat dan bermakna. Kebanggaan yang sehat memotivasi setiap insan pendidikan untuk memberikan yang terbaik.
Kebanggaan Motivasi Terbesar dalam Diri Anak Didik
Motivasi adalah modal dasar terbesar dalam proses pendidikan. Proses pendidikan adalah inti keberhasilan pendidikan. Keberhasilan pendidikan adalah keberhasilan pembentukan karakter.
Pendidikan sejati bukan soal gedung, kurikulum, atau gelar, melainkan keberhasilan menanamkan karakter. Karakter lahir dari proses, proses hidup oleh motivasi, dan motivasi tumbuh dari kebanggaan. Ketika anak didik memiliki kebanggaan, ia menemukan jati dirinya; ketika budi pekerti menjadi pegangan, di sanalah sebuah peradaban ditegakkan. []





















