Tokyo, Gontornews — Lebih dari 500 perempuan di Jepang menggunakan fasilitas bank sperma yang berbasis di Denmark selama tiga setengah tahun terakhir hingga Oktober tahun lalu. Sebuah laporan yang dirilis oleh perusahaan penyedia bank sperma menyoroti peningkatan permintaan domestik untuk layanan tersebut.
Cyros Internasional, perusahaan penyedia bank sperma terbesar di dunia, telah menjual sperma kepada perempuan lajang, perempuan dengan minoritas seksual dan perempuan bersuami βtidak suburβ di Jepang sejak Maret 2019.
Pada November 2020, mereka hanya melayani sekitar 150 klien. Tapi, hanya dalam rentang waktu dua tahun, hingga Oktober 2022, permintaan melonjak hingga tiga kali lipat.
Sebuah kelompok parlemen sedang mempertimbangkan aturan untuk mengembangkan teknologi reproduksi bantuan yang menggunakan donor sperma atau sel telur dari Jepang. Meski demikian, seccara garis besar, aturan tersebut mengatur pelarangan terhadap segala bentuk transaksi komersial sperma.
Pemimpin Cyros Internasional di Jepang, Hiromi Ito, mengatakan pihaknya siap untuk merekrut pendonor sperma asal Jepang. βPerempuan yang menginginkan anak tidak akan menyerah dan akan beralih ke transaksi dari orang ke orang yang melibatkan risiko seperti penyakit menular,β kata Hiromi Ito kepada Kyodo News.
βSaya ingin (pemerintah) menciptakan lingkungan di mana bank sperma swasta dapat beroperasi di bawah aturan dan kontrol keamanan tertentu,β sambungnya.
Sebagian pendonor sperma yang Cyros Internasional kelola berasal dari Amerika Serikat, Eropa. Pada tahap awal, para pendonor setuju untuk tidak mengumumkan identitasnya. Identitas pendonor akan diungkap ketika anak sudah beranjak dewasa.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa 70 persen klien mereka di Jepang memilih donor sperma bernama. Mereka percaya bahwa seorang anak memiliki hak untuk mengetahui asal-usul keturunan mereka sejak awal. [Mohamad Deny Irawan]





















