Yangon, Gontornews — Jurubicara kelompok bersenjata di Rakhine mengatakan, mereka bertanggung jawab atas tewasnya 7 anggota kepolisian Myanmar di empat pos penjagaan di Rakhine, Myanmar, Jumat (4/12). Insiden ini terjadi tepat di saat Myanmar merayakan hari kemerdekaannya yang jatuh tepat pada tanggal 4 Januari.
“Kami belum merdeka. Hari ini bukan kemerdekaan kami,” kata seorang tentara Arakan, Thu Kha, sebagaimana dilansir Channel News Asia.
Selain menewaskan 7 anggota kepolisian Myanmar, pasukan Arakan juga menahan 12 anggota kepolisian lainnya.
“Kami akan memprosesnya dengan hukum internasional. Kami tidak akan membahayakan mereka,” tambah Thu Kha.
Lebih lanjut, Thu Kha, mengatakan serangan tersebut merupakan serangan balasan setelah sebelumnya militer Myanmar menyerang tentara Arakan yang juga menargetkan korban dari warga sipil.
Sebelumnya, militer Myanmar mengumumkan penghentian serangan militer ke sejumlah daerah di Myanmar sebelah Utara dan Timur, yang diduga dinaungi kelompok bersenjata, untuk memulai perundingan damai. Akan tetapi, Rakhine menjadi wilayah pengecualian.
Sementara itu, Jurubicara militer Myanmar, Zaw Min Tun, mengomentari insiden yang menewaskan sejumlah anggota kepolisian yang berjaga di wilayah perbatasan.
“Pos-pos polisi ini ada di sana untuk melindungi ras nasional di daerah itu. Jadi jangan menyerang mereka,” ungkap Zaw Min Tun.
Zaw Min Tun juga mengatakan, insiden tersebut terjadi selang beberapa menit setelah pengibaran bendera nasional Myanmar, tanda kemerdekaan dari Inggris, di usianya yang sudah mencapai 71 tahun. [Mohamad Deny Irawan]






















