Paris, Gontornews — Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pengawasan makanan dan kesehatan di Perancis, ANSES, menyatakan bahwa 90 persen bayi di Eropa terpapar bahan kimia beracun dari popok. ANSES menambahkan bahwa temuan ini berisiko ancaman penyakit serius bagi bayi di kemudian hari.
Secara teknis, ANSES melakukan pengujian terhadap merek popok sekali pakai paling laris di Eropa. Mereka menemukan ada setidaknya 38 bahan kimia berbahaya yang terkandung dalam popok tersebut. Oleh karena, bahan kimia beracun yang mereka temukan berpotensi mengganggu hormon bayi, ANSES menganggap penggunaan popok terkait tidak aman.
Sebagai informasi, ada sekitar 1000 popok bayi di Eropa yang diproduksi setiap menit. Hari ini, pasar popok bayi di Eropa mencapai 7 Miliar Euro per tahun atau sekitar 107 Miliar Rupiah dengan dua merek dagang utama yaitu Pampers dan Huggies.
Penelitian ini memperkirakan ada lebih dari 14 juta anak-anak Eropa berisiko terkena penyakit parah dan laten yang mempengaruhi kualitas hidup mereka. Sebut saja risiko kanker, gangguan endokrin hingga efek reprotoksik yang mempengaruhi tingkat kesuburan anak-anak saat sudah beranjak dewasa. WHO pun mengamini bahwa anak-anak merupakan kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap paparan bahan kimia.
Sejatinya, ANSES telah merilis penelitiannya pada tahun 2019. Saat itu, ANSES menguji 9 merek utama popok yang bereda di seluruh wilayah Eropa dan menemukan adanya kandungan bahan kimia berbahaya yaitu formaldehida dan karsinogen.
Tiga tahun berselang, faktanya, ANSES masih menemukan bahan kimia berbahaya itu terkandung di setiap popok bayi yang mereka uji. Karenanya, ANSES meminta Uni Eropa untuk membatasi kandungan bahan kimia tersebut pada popok bayi.
“Setiap hari, orang tua berisiko mengekspos bayi mereka yang baru lahir dengan bahan kimia beracun hanya dengan mengganti popok mereka. Seharusnya, itu tidak tergantung pada orang tua untuk mengetahui apakah popok yang mereka gunakan beracun atau tidak,” kata Maria Arena, Anggota Komite Parlemen Eropa untuk Lingkungan, Kesehatan Masyarakat, Keamanan Pangan sekaligus juru bicara kampanye masalah kimia.
“Uni Eropa harus meningkatkan (perannya) dan melarang kandungan zat-zat tersebut di semua popok serta memastikan lingkungan bebas racun bagi semua,” sambungnya sebagaimana dilansir Euro News.
Sementara itu, European Chemicals Agency (ECA), mengakui potensi risiko tersebut tetapi mereka menyebut ANSES gagal menunjukkan risiko-risiko itu terjadi pada anak-anak dengan benar. ANSES berkilah bahwa respons ECA cacat.
Setidaknya ada sekitar 21 LSM termasuk Plastic Soup Foundation dan Client Earth, telah menulis surat kepada Komisi Eropa untuk melarang bahan kimia tersebut guna menjaga kesehatan anak-anak. Selain popok bayi, puluhan LSM serupa juga menemukan kandungan serupa pada pembalut wanita serta produk kebersihan lainnya. [Mohamad Deny Irawan]


















