Wabah Covid-19 yang menyebar hampir di seluruh penjuru dunia, ini menyadarkan kita sebagai manusia tentang arti penting hidup sehat. Sebagai way of life (panduan hidup), Islam juga mengajarkan manusia untuk memperhatikan arti pentingnya kesehatan. Bahkan, sabda Rasulullah SAW tentang pentingya menghindari wabah tฤโun dijadikan rujukan bagi Khalifah bin Khattab dalam menetapkan kebijakan penanganan wabah penyakit di Amwas, Syiria.
Selain menjadi protokol penanganan wabah, sabda Rasulullah tentang wabah taโun itu juga menjadi perhatian cendekiawan Muslim (baca: ulama). Dari wilayah Timur, ada Ibnu Hajar al-โAsqalฤni dengan kitabnya Badzlul Ma’un fi Fadhli al-Ta’un; ada pula Thฤbit bin Qurra (288 H/901 M) dengan Kitฤbnya al-Dhakhฤซrah fฤซ สฟIlm al-Tibb; Muแธฅammad bin Zakariyya al-Rฤzฤซ (311 H/923M) dengan kitabnya Al- แธคฤwฤซ fฤซ al-Tibb, dan Ibn Qayyim al-Jawziyya (751 H/1350 M) dengan kitabnya Tibb al-Nabawi.
Dari Barat, ada Ibnu Khatib (713 H/1313 M) dengan kitabnya Muqniสฟat al-Sฤโil สฟan al-Maraแธ al-Hฤโil dan; Ibnu Khatimi (770 H/1369 M) dengan kitabnya Taแธฅแนฃฤซl Gharaแธ al-Qฤแนฃid fฤซ Tafแนฃฤซl al-Maraแธ al-Wฤfi.
Untuk menjaga fokus, pembicaraan kali ini, akan saya fokuskan tentang bagaimana penjelasan Ibnu Qayyim al-Jawziyya (wafat 751 H) seputar wabah dan cara penanganannya.
Dalam kitabnya Tibb al-Nabawi, Ibnu Qayyim Al-Jawziyya (751 H) memulai pembahasannya dengan mengutip dua riwayat hadis; yang pertama dari โAmir bin Saโad bin Abi Waqs dan Sayyidah Hafsah binti Sirrin tentang Taโun. ย Dalam riwayat Saโad bin Waqs kepada Usamah bin Ziyad, Rasulullah SAW bersabda: โTaโun adalah sejenis kotoran (siksa) yang dikirimkan kepada satu golongan dari Bani Israil atau kepada umat sebelum kalian. Maka dari itu jika kalian mendengar wabah tersebut di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Dan jika kalian sedang berada di wilayah yang terkena wabah tersebut janganlah kalian mengungsi darinya.โ Sementara riwayat kedua dari Sayyidah Hafsah binti Sirrin, Rasulullah SAW bersabda tentang syahidnya kematian seorang Muslim yang disebabkan oleh Tฤโun.
Secara bahasa, Al-Jawziyya menjelaskan bahwa taโun merupakan jenis dari wabah. Sementara menurut ahli kedokteran, taโun merupakan pembengkakan yang pecah dan mematikan yang keluar darinya infeksi yang kuat dan sakit sekali melampaui ukuran yang lazim serta di sekitarnya kebanyakan berwarna hitam, atau hijau atau suram.
Umumnya, taโun menimpa tiga bagian tubuh yakni ketiak, telinga bagian belakang dan ujung hidung, serta daging tubuh yang lunak. Hal ini sama dengan atsar dari Aisyah RA yang mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa ia telah mengatahui tentang Taโun. Dan kemudian bertanya lagi apa itu tฤโun? Rasulullah SAW menjawab โGondok seperti punuk unta yang keluar pada cabutan bulu dan ketiak.โ Jelas apa yang disampaikan dalam dua hadis di atas bahwa secara umum taโun merupakan wabah namun belum tentu tiap wabah itu adalah taโun.
Selanjutnya, Al-Jawziyya melarang kita untuk memasuki atau keluar dari daerah yang terkena atau terjangkit wabah. Ia mengibaratkan orang yang masuk ke wilayah terjangkit wabah sebagai bentuk pertentangan terhadap syariat dan akal. Karenanya, menjauhi lokasi wabah merupakan bentuk pencegahan wabah dari Allah SWT melalui Rasul-Nya.
Pun dengan larangan untuk keluar dari daerah terdampak wabah, Al-Jawziyya memiliki dua pemahaman: pertama, mengantarkan diri untuk percaya/yakin kepada Allah dan tawakkal pada-Nya, bersabar atas kehendak-Nya, dan rela atas musibah yang menimpahnya. Kedua, bentuk penjagaan diri dari penyebaran wabah/virus melalui keringat yang keluar dari dalam tubuh, mengurangi makan, serta mengurangi pekerjaan berat kecuali olahraga dan mandi.
Dengan olahraga dan mandi, bakteri jelek yang banyak dan tersembunyi akan bercampur dengan enzim yang bermanfaat oleh tubuh. Bagi yang terjangkit wabah atau virus diharapkan untuk tenang, rileks serta menghentikan beragam gerakan berat nan merugikan. Karena itu, al-Jawziyya tidak menyarankan untuk bepergian keluar rumah dari daerah terjangkit wabah yang berisiko membahayakan diri dan orang lain.
Dengan demikian, kebijakan penguncian wilayah (lockdown) maupun jarak sosial (social distancing) yang diterapkan sebagian besar pemerintah dunia bukan hal baru dalam Islam. Islam menganggap kedua metode tersebut memiliki kemaslahatan yang sangat besar. Tentunya, metode ini akan semakin berhasil jika dikombinasikan dengan kebijakan penanganan wabah yang ditetapkan oleh pemerintah.
Jangan lupa juga untuk berolahraga walau di masa lockdown karena penting untuk kesehatan seperti kata Al-Jawziyya. Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, kesabaran dan ketabahan bagi kita dalam menghadapi wabah Covid-19 ini. Wallฤhu aโlam bi al-แนฃawab!





















