Bandung, Gontornews — Tidak ada orangtua yang sempurna. Namun, bukan berarti orangtua harus diam tanpa pembelajaran untuk ke depan. Kak Eka Wardhana Spsi, praktisi parenting, menuturkan, ”Kita dapat belajar banyak dari kesalahan yang kita lakukan. Termasuk saat menjadi orangtua.”
Banyak sekali kesalahan yang lazim dilakukan oleh orangtua saat mendidik anaknya. Sehingga ujungnya anak tidak tumbuh menjadi sosok yang diharapkan. Hal itulah yang perlu diperhatikan betu-betul oleh orangtua.
Lantas apa saja ya kesalahan orangtua dalam mendidik anaknya? Dikutip dari Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd dalam buku At-Taqshir fi Tarbiyah Al-Aulad, berikut ada tiga kesalahan pertama orangtua pada anak:
Pertama, membuat anak tumbuh menjadi manja. Manja bukan berarti memberi segala kemewahan saja, tetapi juga termasuk membiarkan anak melewati hari-hari tanpa aturan.
Ketiadaan aturan membuat anak merasa bisa berbuat semaunya. Akibatnya, ia jadi mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain.
”Mendidik anak dengan cara seperti ini akan melenyapkan keistiqamahan anak,” tambah pendongeng dan penulis buku anak tersebut. Selain itu, lanjut Kak Eka, hal tersebut akan menumpulkan kewibawaan yang harusnya anak punya saat ia dewasa dan juga menghilangkan keberanian anak menghadapi tantangan.
Kedua, terlalu keras pada anak. Kebalikan dari yang pertama, ternyata banyak juga orangtua yang mendidik anak sangat keras. Keras disini artinya melebihi batas kewajaran. Misalnya, memukul anak karena melakukan kesalahan yang baru pertama kali ia lakukan.
Akibatnya bisa ada dua jenis, anak tumbuh menjadi pengecut yang tidak mau mengambil resiko karena takut salah atau tumbuh menjadi pribadi yang keras kepada orang lain.
Ketiga, hanya memperhatikan aspek penampilan anak. Penampilan disini bukan sekadar memberi pakaian yang bagus, peralatan sekolah yang keren, gadget yang bergengsi saja.
Tetapi juga bila pikiran orangtua hanya terfokus pada makanan enak dan bergizi, prestasi sekolah yang mentereng, atau hal lain yang bisa dibanggakan orangtua pada orang lain, sementara aqidahnya terabaikan.
Anak seperti ini merupakan investasi bodong bagi orangtua. ”Dibela mati-matian, tetapi tidak bisa mendoakan ketika orangtuanya meninggal dunia,” pungkas penulis lebih dari 490 judul buku anak itu, kepada Gontornews.com dalam Whatsapp group binaan Rumah Pensil Publisher. [Edithya Miranti]


















