Sebagai Perguruan Tinggi di Sumbawa Barat, Universitas Cordova (Undova) menawarkan program studi teknik pertambangan. Berada di bawah Yayasan Wakaf Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang, Undova, tetap menawarkan sejumlah keunikan.
Al-Faḍlu li al-Mubtadi’ atau kemuliaan bagi para pemulai sesuatu. Mungkin itu yang ada di benak Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ikhas, Taliwang, Sumbawa Barat, kala memutuskan untuk mendirikan perguruan tinggi di Sumbawa Barat pada tahun 2004.
KH Zulkifli Muhadli, pimpinan Ponpes Al-Ikhlas Taliwang, bersama Bupati Sumbawa Barat kala itu, Drs HA Wahab Yasin mendeklarasikan pendirian Universitas Cordova (Undova) di lingkungan Pesantren Al-Ikhlas Taliwang.
Namun, Kiai Zul, sapaan akrabnya, tidak semata-mata mendirikan Undova untuk meralisasikan cita-cita Ponpes Al-Ikhlas saja. Tapi, dalam cakupan yang luas, juga membantu percepatan kemajuan wilayah Kabupaten Sumbawa Barat.
Undova merupakan perguruan tinggi pertama di wilayah Sumbawa Barat. Sebelum Undova berdiri pada 20 Januari 2003, perguruan tinggi terdekat di Kabupaten Sumbawa Barat terdapat di Sumbawa Besar yang berjarak 115 km dari Taliwang. Sementara perguruan tinggi lainnya terdapat di Pulau Lombok.
“Terlintas dalam sanubari Kiai Zul bahwa sebuah kabupaten akan bisa cepat maju andai memiliki sumberdaya manusia yang handal. Untuk itu, diperlukan lembaga pendidikan yang memadai termasuk di antaranya pendidikan tinggi,” ungkap Wakil Rektor Undova, Amir Ma’ruf Husein, kepada Majalah Gontor.
Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 78/D/O/2009, Undova memperolah izin pendirian perguruan tinggi dan penyelenggaraan program-program studi tertanggal 17 Juni 2009. Saat itu, Undova menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang dibina dan diawasi oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) wilayah VII.
Sebetulnya, Kiai Zul sudah membayangkan bagaimana masa depan perguruan tinggi yang tertuang dalam akta Yayasan Wakaf Pondok Pesantren Al-Ikhlas tersebut. Karenanya, pemberian nama pun diperhitungkan secara matang hingga menjadikan Cordova sebagai nama perguruan tingginya. “(Nama) Cordova telah terukir abadi dalam tinta emas sejarah kemanusiaan sebagai satu di antara dua cahaya dunia di abad pertengahan. Banyak temuan ilmiah (di Cordova) yang berkontribusi bagi perkembangan iptek di zaman kini,” tutur Ustadz Amir.
Saat ini, Undova memiliki lima fakultas dan sepuluh program studi, yaitu: Fakutas Ekonomi dengan Program Studi (Prodi) Ekonomi Pembangunan; Fakultas Teknik dengan Prodi Teknik Informatika, Teknik Sipil, Tekni Industri dan Teknik Pertambangan; Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dengan Prodi Pendidikan Biologi dan Pendidikan Bahasa Inggris; Fakultas Pertanian dengan Prodi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Agribisnis; dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dengan Prodi Ilmu Pemerintahan.
Tidak berhenti sampai di situ, Undova tengah memproses tiga Prodi tambahan yaitu Prodi Ilmu Hukum pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik; Prodi Pendidikan Agama Islam dan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Keduanya berada di bawah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Meskipun satu induk dengan Ponpes Al-Ikhlas, Undova belum menerapkan sistem perguruan tinggi berasrama. “Ada rencana ke depannya untuk menerapkan sistem perguruan tinggi berasrama (di Undova),” papar pria kelahiran Surabaya, 9 Februari 1966, itu.
Amir menjelaskan, peguruan tinggi berbasis pesantren memiliki sejumlah keunggulan ketimbang perguruan tinggi yang tidak berbasis pesantren. Sebut saja, kemandirian ekonomi pesantren yang terbilang kokoh, memiliki semangat juang yang lebih besar, serta pembinaan akhlak mahasiswa.
Secara umum, visi Undova sejalan dengan visi Ponpes Al-Ikhlas Taliwang yaitu Terwujudnya Masyarakat Islami. Sedangkan secara khusus, Undova bervisi menjadi perguruan tinggi berkultur ilmiah dan islamiyah yang mampu menghasilkan lulusan Ulama Ulul Amri, Ulama Ulul Albab dan Ulama Ulul Amwal.
Untuk merealisasikan visi tersebut, Undova memiliki sejumlah misi: Melaksanakan Catur Dharma Undova yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, Pengabdian Masyarakat serta Amaliyah Islam dan Kepesantrenan dengan mengoptimalkan sumberdaya secara bertanggung jawab dalam wawasan global dan universal.
Undova juga bermisi membantu pencapaian visi dan misi Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang; Mewujudkan karakter civitas akademika yang beriman teguh, berakhlak mulia, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran merdeka.
Hingga tahun 2019, Undova telah meluluskan 926 mahasiswa. Sejumlah profesi berhasil diisi oleh lulusan Undova. Mulai dari jabatan strategis di pemerintahan daerah, swasta maupun sebagai pengusaha. Ada juga yang menjadi Komisioner Komisi Pemilihan Umum KSB, anggota Panwaslu KSB, kepala desa, jurnalis, dosen, dan guru.
Menjalin kerjasama
Sebagai penunjang kegiatan perkuliahan, Undova memiliki sejumlah sarana dan prasarana seperti Laboratorium Komputer dan Multimedia, Laboratorium MIPA, Laboratorium Teknik Sipil, Laboratorium Bahasa, Laboratorium Lapangan untuk Fakultas Pertanian.
Tenaga pengajar Undova berasal dari Kabupaten Sumbawa Barat dan dari luar NTB seperti Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Sumatera. “Sumber utama dosen Undova adalah alumni Pondok Pesantren Al-Ikhlas Taliwang dan Pondok Modern Darussalam Gontor yang sudah mencapai jenjang S2 atau S3 lintas keilmuan dan alumni lulusan perguruan tinggi dari dalam maupun luar negeri,” ujar Amir yang meraih gelar Magister Manajemen Keuangan Daerah dari Universitas Mataram.
Amir membeberkan, target Undova menjadi perguruan tinggi berkelas dunia dalam 10 tahun mendatang. Undova juga menargetkan diri sebagai tujuan dan pilihan alumni pondok pesantren di Indonesia bersama Universitas Islam Darussalam Gontor.
Undova mendapatkan laboratorium pertambangan terbaik se-NTB sebagai pusat rujukan Prodi Teknik Pertambangan di Indonesia. Undova memiliki lembaga riset dan teknologi yang unggul di bidang pertambangan dan menambah Prodi yang sesuai dengan kebutuhan dan keunggulan potensi daerah. “Tidak berlebihan jika Undova memilki Program Studi Teknik Pertambangan karena Undova berlokasi di kawasan kaya tambang dan dekat dengan pertambangan terbesar di Indonesia. Sementara di NTB hanya ada dua perguruan tinggi yang memiliki Prodi Teknik Pertambangan dan keduanya berada di Pulau Lombok,” ujar Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah KSB periode 2014-2019 itu.
Tidak berhenti di sisi internal, Undova juga melakukan serangkaian kerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri, seperti: Telkom University, Universitas Mercu Buana Jakarta, Universitas Islam Darussalam Gontor, Universitas Azza’imul Azhari Sudan, University of East Kordovan Sudan, International Islamic University College Selangor Malaysia, Sultan Sharif Ali Islamic University Brunei Darussalam, Busan University for Foreign Studies Korea Selatan. “Saat ini, kami juga sedang memproses kerjasama dengan Universitas Pattimura di Ambon,” tambah Amir.
Ia menjelaskan, peran Undova dalam setiap kesepakatan kerjasama disesuaikan dengan kegiatan masing-masing seperti memfasilitasi SDM dosen sebagai tenaga ahli, narasumber, peneliti dan pelaksana kegiatan pengabdian masyarakat. Undova juga berperan sebagai peserta dalam kegiatan yang diselenggarakan mitra kerjasama serta memfasilitasi sarana dan prasarana penunjang.
Terakhir, Undova berpesan bahwa perkembangan teknologi akan berkembang sangat pesat di masa-masa mendatang. Kemudahan informasi tentu saja berperan penting terhadap kehidupan masyarakat. Tapi di sisi lain, konten-konten yang baik dan buruk di internet akan terus tersedia.
“Mahasiswa harus berbekal diri dengan bekal mental yang kuat, rohani yang sehat dan bekal ilmu pengetahuan yang cukup. Jadi, saat mereka masuk ke dunia internet, mereka akan mampu memilah dan memilih mana yang baik baginya serta sisi buruk yang harus ditinggalkannya. Dunia masa depan adalah dunia teknologi informasi dan komunikasi. Atau dalam bahasa lain, dunia internet of everything,” pungkasnya. []























