Bogor, Gontornews — Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, para santri Pondok Tahfizh Al-Bayan Lebak Jaya, Bogor mengikuti kegiatan bincang santai yang mengangkat tema “Keselarasan Fikir dan Dzikir dalam Kehidupan Seorang Santri.” Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman santri bahwa kecerdasan berpikir dan kedekatan kepada Allah SWT merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan.
Kepada Gontornews.com, Ustadzah Neng Fitri Hedi Susanti Lc ME, selaku narasumber menyampaikan bahwa fikir dan dzikir merupakan dua unsur penting yang tidak dapat dipisahkan dalam pembentukan kepribadian seorang Muslim. Fikir membimbing seseorang untuk memahami, merenungkan, dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa. “Sedangkan dzikir menjaga hati agar senantiasa terhubung dengan Allah SWT dan terhindar dari berbagai penyakit hati,” tekannya.
Disampaikan pula bahwa keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari banyaknya hafalan atau luasnya ilmu yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuannya menjaga kebersihan hati dan kemuliaan akhlak. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-A’la: 14)
Ayat tersebut menjadi pengingat, lanjut Ustadzah Neng, bahwa falah (keberuntungan dan kesuksesan hakiki) hanya dapat diraih oleh mereka yang mampu menyucikan jiwa. Kesucian jiwa tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses pembinaan diri yang berkesinambungan dengan menyeimbangkan kekuatan fikir dan dzikir dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan yang digelar pada Senin (22/6/2026) malam tersebut juga mengajak para santri agar tidak hanya menjadi penghafal al-Qur’an, tetapi juga menjadi pribadi yang mampu menghadirkan nilai-nilai al-Qur’an dalam sikap dan perilakunya. Kecerdasan akal harus dibarengi dengan kelembutan hati, semangat belajar harus berjalan seiring dengan kekhusyukan beribadah, serta kesungguhan dalam menuntut ilmu harus diiringi dengan keikhlasan dan ketawadhuan.
Melalui kegiatan ini diharapkan para santri semakin memahami bahwa perjalanan menjadi insan yang sukses di dunia dan akhirat dimulai dari kemampuan menjaga keseimbangan antara fikir yang mencerahkan akal dan dzikir yang menghidupkan hati. “Dengan demikian, akan lahir generasi Qur’ani yang tidak hanya cerdas dalam ilmu, tetapi juga bersih jiwanya, kuat akhlaknya, dan dekat dengan Allah SWT,” pungkas alumnus Universitas Al-Azhar Kairo Mesir tersebut. [Edithya Miranti]



















