Putra Jaya, Gontronews — Memasuki fase kelima pelonggaran kuncian (Movement Control Order/MCO), Malaysia mulai membuka aktivitas di sejumlah sektor seperti lembaga keagamaan. Meski demikian, aturan ketat tetap diberlakukan seperti penggunaan masker hingga menjaga jarak fisik 2 meter.
Fenomena COVID-19 di dunia membuat sebagian besar lembaga keagamaan semisal masjid dan surau mengalami pengurangan jamaah. Sebagai contoh, Masjid At-Taqwa di Taman Tun Dr Ismail yang biasanya diisi 1.600-1.800 jamaah tarawih, kini hanya bisa diisi oleh 14 jamaah saja. Itupun masih terpisah jarak 2 meter dan tidak dengan shaf rapat seperti biasanya.
βKami meluangkan waktu untuk menjelaskan kepada jamaah bahwa kami hanya diperbolehkan menampung 30 orang saja. Itu sudah termasuk petugas masjid seperti imam dan penjaga,β ungkap Imam sekaligus Naquib di Masjid At-Taqwa, Ahmad Saufi Musaffa, kepada Malay Mail.
βHanya saja, setelah itu, kami mengizinkan jamaah lain untuk mengisi ruang yang tersedia. Kami pun memberlakukan pendekatan dasar βsiapa datang pertama, dia yang kita layaniβ. Ketentuan ini tentu saja aneh bagi para jamaah yang hendak shalat di masjid. Namun saat ini, itu adalah cara paling adil yang bisa kami lakukan.β
βYang terpenting saat ini adalah kami dapat mematuhi prosedur ketat yang diberlakukan pemerintah. Kami bersyukur, masyarakat memahami dan menghargai apa yang perlu mereka lakukan,β imbuh Saufi.
Pada Kamis (14/5), Pemerintah Malaysia besama komite fatwa nasional telah memutuskan untuk mengizinkan pelaksanaan shalat berjamaβah di Malaysia. Sebut saja, shalat jumβat, shalat tarawih, shalat idul Fitri di Wilayah Federal, yang tentu saja, tetap berada dalam kondisi yang ketat.
Ketentuan ini pun berlaku bagi wilayah zona hijau COVID-19. Setiap masjid hanya diperbolehkan mengisi 30 jamaah, tidak lebih dan belum termasuk imam, dalam setiap pelaksanaan shalat jamaah. Pihak masjid pun diharuskan menyiapkan alat pengukur suhu tubuh, menyediakan tempat cuci tangan serta mencatat kehadiran jamaah.
βBagaimanapun juga kita harus terbiasa. Itu adalah awal dari sebuah kenormalan yang baru,β ungkap Saufi.
Sebagai informasi, Malaysia mulai memberlakukan fase lima Β MCO pada 4 Mei 2020. Namun, fase MCO bersyarat tersebut lantas diperpanjang oleh Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin hingga 9 Juni mendatang. [Mohamad Deny Irawan]






















