Brasilia, Gontornews — Pemerintah Brazil melaporkan penambahan 14.919 kasus dan 816 kematian baru akibat COVID-19 dalam 24 jam terakhir pada Sabtu (17/5). Laporan ini sekaligus mengonfirmasi bahwa penularan di negara Amerika Selatan itu telah melampaui jumlah kasus COVID-19 di Italia dan Spanyol.
Kini, Brazil menduduki peringkat keempat negara dengan kasus COVID-19 tertinggi di dunia setelah Amerika Serikat, Rusia dan Inggris. Fakta ini mungkin saja menempatkan Presiden Jair Bolsonaro dalam tekanan menyusul perbedaan kebijakannya dengan pemerintah daerah dan pakar kesehatan.
Sebagaimana diketahui, Presiden Bolsonaro bersikukuh untuk menggunakan obat malaria sebagai vaksin COVID-19. Padahal, ahli kesehatan masyarakat menyebut penggunaan obat anti malaria tidak terbukti dapat menyembuhkan atau setidaknya mengurangi efek COVID-19. Para ahli bahkan menemukan bahwa obat Hydroxychloroquine memiliki efek samping berupa gangguan irama jantung bagi pasien.
Bolsonaro mengkritik kebijakan Gubernur di negara bagian Brazil yang menutup wilayahnya secara ketat demi mencegah penyebaran virus.
Pada saat yang bersamaan, Wakil Presiden Brazil, Hamilton Mourao, menjalani tes COVID-19 dan telah mengisolasi diri di kediamannya, Sabtu (16/5). Reuters menyebut pemeriksaan ini dilakukan setelah seorang pelayan publiknya dinyatakan positif COVID-19.
Mourao pun dipastikan tidak dapat melaksanakan tugas secara resmi pada Senin (18/5) hingga hasil tes diharapkan.
Sejauh ini, Pemerintah Brazil menjadi negara dengan pengujian COVID-19 terendah jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa. Brazil telah memproses hampir 338.000 tes COVID-19 di laboratorium resmi awal pekan ini. Sementara 145.000 spesimen lain masih menunggu untuk dianalisa.
Sebaliknya, Italia dan Spanyol telah melakukan 1,9 juta tes diagnostik resmi terhadap temuan virus COVID-19. [Mohamad Deny Irawan]






















