New Delhi, Gontornews — Otoritas penanggulangan bencana nasional (NDMA) India meminta Pemerintah untuk memperpanjang masa penguncian wilayah hingga 31 Mei mendatang. NDMA berdalih lebih dari 90.000 kasus COVID-19 terkonfirmasi sementara bentrokan antara polisi dan migran terlantar terus terjadi.
NDMA merupakan lembaga yang bertanggung jawab untuk menetapkan kebijakan penguncian dan mengajukannya kepada Kementerian terkait. NDMA berharap pedoman terperinci mengenani perpanjangan masa penguncian akan terealisasi pada Ahad.
India telah mengonfirmasi jumlah kasus COVID-19 yang lebih banyak dari Cina. Meski demikian, angka kematian di India lebih rendah ketimbang angka kematian di Cina. Jika Cina mengonfirmasi 4.600 kematian, maka India ‘hanya’ mengonfirmasi 2.872 kematian akibat virus yang bermula di Wuhan tersebut.
Sejauh ini, India telah melaksanakan penguncian sejak 25 Maret lalu. Jika mengacu pada jadwal, masa penguncian berakhir pada Ahad (17/5) malam.
Penguncian di India telah memicu krisis bagi ratusan juta orang di India. Banyak migran di perkotaan kehilangan pekerjaan dan berusaha kembali ke kampung halaman sekalipun dengan berjalan kaki atau menumpang truk. Hal ini mereka pilih karena tidak ada trnsportasi umum yang beroperasi.
Sekitar 1.500 pekerja migran di Rajkot, Gujarat, merusak lusinan kendaraan serta melemparkan batu ke arah polisi. Tindakan anarkis tersebut terjadi karena dua kereta khusus yang terjadwal sebelumnya dibatalkan oleh otoritas terkait. Masa pun mengungkapkan kekesalannya dengan melakukan sejumlah tindakan anarkis.
“Para pekerja tidak datang untuk melakukan kekerasan. Dua atau tiga kereta mengalami penjadwalan ulang. Namun, para pekerja salah paham dengan menyebut perjalanan kereta mengalami pembatalan. Mereka lantas melakukan tindakan kekerasan,” ungkap Kepala Polisi Rajkot, Balram Meena, kepada Reuters.
“Kami telah berhasil mengidentifikasi orang-orang yang terlibat dalam kekerasan,” pungkas Meena. [Mohamad Deny Irawan]























