Ponorogo, Gontornews — Jauh sebelum Pemerintah Kabupaten Ponorogo memutuskan isolasi Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2 Siman, Selasa (7/7), Gontor telah memberlakukan isolasi mandiri terhitung 15 Maret 2020. Artinya, hampir 4 bulan lalu, Gontor telah mengisolasi mandiri dan melakukan serangkaian upaya untuk membendung penyebaran COVID-19 di kalangan santri.
Sebagaimana diketahui, Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, memutuskan untuk mengisolasi Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 2, Siman, Madusari, Selasa (7/7). Kebijakan ini diambil menyusul ditemukannya satu orang santri asal Sidoarjo yang terpapar COVID-19.
โSementara di pondoknya sedang dilakukan tracing terhadap kontak erat,โ ungkap Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni sebagaimana dilansir Antara.
โUntuk sementara, warga ponpes yang ada di dalam tidak diperkenankan untuk keluar pondok, menerima tamu/kunjungan untuk keperluan apapun. Kecuali pemenuhan pokok dan pelayanan kesehatan,โ imbuhnya.
Pertanyaannya apakah Gontor tidak melakukan langkah preventif demi mencegah penyebaran COVID-19 di kalangan santri? Jawabannya tidak.
Dalam penelusuran Gontornews,com, Gontor telah mengeluarkan maklumat No: 3/PMDG/VII/1441 tentang pencegahan risiko penyebaran COVID-19 di kalangan santri. Maklumat tersebut diketahui tertanggal 15 Maret 2020 atau hampir 4 bulan lebih dahulu dari kebijakan isolasi yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Ponorogo.
Maklumat yang ditandatangani oleh Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, tersebut berisi beberapa hal sebagai berikut:
- Melarang kunjungan wali santri dan tamu sampai batas waktu yang tidak ditentukan;
- Jika terpaksa menerima tamu, maka harus diadakan pengecekan suhu dengan thermometer gun, serta sterilisasi ringan dengan hand sanitizer atau disinfektan;
- Melarang pengiriman paket dalam bentuk apapun dari wali santri. Apabila terpaksa menerima, maka perlu disterilkan dengan disinfektan;
- Melakukan penjagaan di pintu masuk pondok selama 24 jam;
- Menyediakan dan mendistribusikan: Disinfektan, hand sanitizer, serta thermometer gun di tempat-tempat yang dianggap perlu; Masker bagi yang sakit;
- Melarang santri dan guru untuk melakukan perjalanan ke luar pondok;
- Mengintensifkan pengawasan terhadap kondisi santri, guru dan karyawan yang sakit dengan melibatkan tenaga kesehatan pondok yang ada;
- Menghindari kontak fisik secara langsung (salaman, berpelukan, cium tangan, kegiatan massal dsb);
- Meningkatkan kebersihan dengan menjaga wudlu dan mencuci tangan dengan sabun;
- Membaca doa terhindar dari penyakit menular sebagai bentuk ikhtiar kita agar terhindar dari penyakit ini.
[Mohamad Deny Irawan]






















