Dubai, Gontornews — Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan lima kematian tambahan menyusul ledakan dahsyat pada 4 Agustus 2020 di Beirut. Tambahan ini meningkatkan jumlah korban tewas menjadi 177, surat kabar nasional Lebanon Daily Star melaporkan.
Ledakan amonium nitrat di gudang Pelabuhan Beirut itu awalnya menewaskan sekitar 73 orang, tapi jumlah kurban tewas terus bertambah sejak saat itu.
Selain itu, sekitar 6.000 orang terluka dan 300.000 terpaksa mengungsi dari rumah mereka.
Sementara itu, badan kebudayaan PBB, UNESCO, berjanji akan melindungi warisan budaya di Lebanon. Menurut UNESCO, 60 bangunan bersejarah terancam runtuh.
Efek ledakan dirasakan di seluruh ibukota Lebanon itu. Tapi kerusakan terparah terjadi di lingkungan Gemmayzeh dan Mar-Mikhael yang tidak jauh dari pelabuhan. Keduanya merupakan lokasi bagi sejumlah besar bangunan bersejarah di Lebanon.
“Komunitas internasional telah mengirimkan sinyal dukungan yang kuat ke Lebanon setelah tragedi ini,” kata Ernesto Ottone, asisten Direktur Jenderal Kebudayaan UNESCO.
“UNESCO berkomitmen untuk memimpin respons di bidang budaya, yang harus menjadi bagian penting dari upaya rekonstruksi dan pemulihan yang lebih luas.”
Sementara itu, Sarkis Khoury, kepala barang antik di Kementerian Kebudayaan Lebanon, mengatakan setidaknya ada 8.000 bangunan dilaporkan terkena dampak ledakan itu. “Di antaranya ada sekitar 640 bangunan bersejarah, sekitar 60 di antaranya berisiko runtuh,” kata UNESCO dalam sebuah pernyataan.
Museum-museum besar seperti Museum Nasional Beirut, Museum Sursock dan Museum Arkeologi Universitas Amerika Beirut, ruang budaya, galeri, dan situs keagamaan, juga tak lepas dari dampak ledakan maut itu.
Bahkan sebelum ledakan, ada kekhawatiran yang berkembang di Lebanon tentang kondisi situs warisan di Beirut karena pembangunan dan kurangnya pelestarian bangunan bersejarah di kota yang padat penduduk itu.
Seorang jurubicara UNESCO mengatakan Khoury menekankan perlunya konsolidasi struktural yang mendesak dan intervensi waterproofing untuk mencegah kerusakan lebih lanjut menyongsong hujan musim gugur.
Pemerintah Lebanon pimpinan Perdana Menteri Hassan Diab mengundurkan diri pecan ini setelah demonstrasi berhari-hari menuntut pertanggungjawaban atas bencana tersebut. []






















