Yangon, Gontornews — Pemerintah Myanmar mengkarantina puluhan ribu orang demi mencegah penyebaran Covid-19. Namun, cara ini diprediksi akan membebani sistem kesehatan masyarakat yang selama ini rapuh. Para ahli kesehatan masyarakat dan dokter telah memperingatkan pemerintah akan ancaman gagalnya strategi tersebut kala infeksi Covid-19 melonjak.
Berbeda dengan penanggulangan Covid-19 di Asia Tenggara, Myanmar melakukan pendekatan ekstrem. Ketimbang memberlakukan pengujian, pelacakan dan pengobatan, Myanmar justru memilih mengkarantina ribuan warga dalam satu lokasi.
Myanmar mengkarantina lebih dari 45.000 warga di sejumlah gedung sekolah, biara kantor pemerintah hingga apartemen di Yangon. Puluhan ribu warga termausk mereka yang belum menjalani pengujian, pelacakan kontak dekat maupun migran yang baru kembali.
Tidak hanya itu, Myanmar juga menggabungkan para pasien terduga Covid-19 tanpa gejala, gejala ringan dalam satu lokasi. Pakar kesehatan masyarakat Myanmar, Kyaw San Wai, meragukan sistem tersebut terutama saat pasien Covid-19 berat tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak dan memadai.
“Strategi ini dapat diterapkan hingga pertengahan Agustus mengingat kasus penularan Covid-19 di Myanmar rendah. Namun, peningkatan kasus penularan yang sedemikian dramatis hingga akhir Agustus, terutama di Yangon, membuat strategi ini berpotensi gagal,” katanya kepada Reuters.
Hingga Kamis (24/9), Pemerintah mengonfirmasi penambahan 535 kasus Covid-19 baru dan 3 kematian. Secara total, Myanmar melaporkan 7.827 kasus dengan 133 kematian akibat virus asal Wuhan tersebut.
Kepala Rumah Sakit sementara Yangon, dr Kaung Myat Soe, mengeluhkan jumlah pasien rawat inap Covid-19. Ia mendesak pemerintah memberlakukan isolasi mandiri di rumah serta merawat pasien dengan kondisi serius di rumah sakit.
“Di negara lain, mereka membiarkan orang tetap tinggal di rumah. Sementara rumah sakit melayani pasien dengan kondisi serius,” ucap Myat Soe.
“Di negara ini, kami khawatir anak-anak kecil dan orang lanjut usia akan menjadi korban. Jadi kami mengisolasi mereka,” pungkasnya.
Pemerintah Myanmar mencatat lebih dari 45.000 warga menjalani karantina ketat di Yangon. Angka ini meningkat lebih dua kali lipat pada bulan Agustus yang hanya 19.000 warga. [Mohamad Deny Irawan]






















