Sao Paolo, Gontornews — Pusat Penelitian Biomedis Brazil, Butantan Institute, Sao Paolo, mengonfirmasi vaksin Covid-19 asal Cina, CoronaVac, aman. Pernyataan ini terungkap setelah Direktur Butantan, Dimas Covas, menyatakan bahwa vaksin CoronaVac aman dengan tingkat paling baik dan menjanjikan.
“Hasil pertama dari studi klinis di Brazil membuktikan bahwa dari semua vaksin yang diuji, CoronaVac menjadi yang paling aman dengan tingkat paling baik dan paling menjanjikan,” kata Gubernur Sao Paolo, Joao Doria, kepada Reuters.
Meski demikian, Butantan Institute tidak akan merilis hasil uji klinis tahap ketiga sebelum uji coba yang melibatkan 13.000 relawan usai. Sejauh ini, baru 9.000 relawan yang melakukan uji coba vaksin Covid-19 asal Cina tersebut.
Sebagai informasi, Butantan Institute merupakan pusat penelitian biomedis terkemuka asal Brazil. Mereka menyelenggarakan uji coba klinis fase ketiga dengan menggunakan sejumlah vaksin seperti Sinovac, AstraZeneca, dan Johnson & Johnson.
Setiap relawan memperoleh dua dosis selama masa uji coba. Sekalipun terlihat menjanjikan, peneliti terus melakukan uji coba yang tengah berlangsung. Selain Brazil, vaksin CoronaVac juga menjalani uji coba klinis fase ketiga di Turki dan Indonesia.
Dalam pengamatannya, Covas mengungkapkan tidak ada reaksi meragukan yang muncul setelah penggunaan dua dosis vaksin CoronaVac. Mereka mencatat 20 persen relawan melaporkan nyeri ringan akibat suntikan, yang lantas turun menjadi 10 Persen setelah penggunaan dosis kedua. Sementara 5 persen pasien melaporkan rasa mual atau kelelahan. Sejumlah kasus terlapor juga megungkapkan ada relawan yang mengalami nyeri otot.
Sekretaris Negara bagian Sao Paolo, Jean Gorinchteyn, optimis vaksin CoronaVac mampu menghasilkan anti bodi pelindung dari virus Covid-19. Ia berharap Sao Paolo mendapatkan persetujuan regulasi bagi CoronaVac pada akhir tahun ini.
Sao Paolo telah menandatangani kesepakatan dengan Sinovac untuk membeli 60 juta dosis CoronaVac pada akhir Februari 2021 mendatang. Sejauh ini, Brazil telah melaporkan lebih dari 5,2 juta kasus Covid-19. [Mohamad Deny Irawan]





















