Judul : Strategi Dakwah Milenial
Penulis : Burhan Sodiq
Penerbit : Gazzamedia
Cetakan : 2019
Ukuran : 14 x 21 cm
Tebal : 178 halaman
Pola dakwah di zaman kekinian memang menarik diperbincangkan. Dimulai dari munculnya komunitas hijrah hingga soal menggunakan perangkat media untuk berdakwah. Tentu saja semua ada seninya masing masing. “Hal ini adalah bagian dari konsekensi perubahan zaman yang begitu cepat,” terang Burhan Sodiq kepada Gontornews.com.
Da’i dalam hal ini harus mengambil peran secara lebih komprehensif. Ia tidak boleh merasa cukup dengan pendekatan-pendekatan yang ada. Tetapi harus terus melihat dan mengamati apa yang terjadi, untuk kemudian mencari jalan terbaik, pendekatan seperti apa yang paling menarik untuk dilakukan.
Buku ini mengetengahkan banyak pikiran menarik tentang dakwah zaman now. Memberi masukan-masukan positif terhadap apa yang bisa dilakukan da’i. Bagaimana mengusahakan beragam faktor pendukung yang mampu mendongkrak dakwah secara lebih baik.
Ditulis oleh praktisi dakwah, Burhan Sodiq, sehingga banyak sisi menarik, baik dari segi teori maupun lapangan dakwah. Sebagaimana penulis mampu menyisipkan informasi lain akan apa yang terjadi di lapangan dakwah.
Karena dakwah itu adalah sebuah usaha kebaikan amal. Maka ada tiga sisi yang perlu diperhatikan yakni siapa pelakunya, apa medianya, dan siapa objeknya. Ketiganya harus mendapat perhatian khusus bagi setiap pelakunya. Jangan sampai diabaikan begitu saja. Karena hal ini menjadi titik pijak dakwah di masa yang akan datang.
Lalu sisi milenialnya dimana? Nah yang membedakan buku ini dengan buku lainnya adalah mengupas tentang hal-hal yang kekinian itu. Tercantum di dalamnya, tentang bagaimana menghadapi generasi milenial yang sama sekali beda dengan generasi sebelumnya. Kemudian juga metode apa yang paling tepat untuk mereka. Karena jika pendekatannya pas, maka dakwah itu akan mudah diterima.
“Meski buku ini tidak terlalu tebal, tapi isinya ‘daging’ semua. Sangat pas buat para pelaku dakwah untuk berbagi ide dan semangat dalam menjalankan misi-misi kebaikan di masa mendatang,” tutup penulis. <Edithya Miranti>





















