Bogor, Gontornews — Kampung Maghfirah. Pekan ini, namanya banyak menghiasi halaman media massa ketika Menteri Agama (Menag), Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi SIP SH MH, meresmikan Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan Islam (STIPI) Maghfirah dan Madrasah Aliyah (MA) Milbos di kampung itu, Senin (30/11).
Kehadiran jenjang pendidikan setara SLTA dan perguruan tinggi itu melengkapi jenjang pendidikan yang sebelumnya telah hadir di sana. Karena itu tak heran jika Ketua Yayasan Maghfirah Bina Umat, KH Ahmad Hatta Lc MA PhD, menyebutkan Kampung Maghfirah merupakan hasil kerja keras, kerjasama, dan dukungan para jamaah haji dan umrah dari Maghfirah Travel yang berjumlah sekitar 20 ribuan.
Kampung Maghfirah yang berlokasi di Caringin, Bogor, ini mulai didirikan tahun 2016 oleh KH Ahmad Hatta Lc MA PhD, sang pemilik Maghfirah Travel. Kampung ini menghadirkan konsep pendidikan terpadu yang mengintegrasikan seluruh jenjang pendidikan dari mulai tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga perguruan tinggi.
Bahkan di kampung seluas sekitar 30 hektare ini tersedia pula pendidikan untuk para orang dewasa dan lansia dari perkotaan yang membutuhkan refreshing secara ruhani dengan melakukan kegiatan-kegiatan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, seperti melalui shalat tahajud.
“Kami mengajak para jamaah yang tergabung dalam Maghfirah untuk menyiapkan sebuah masa depan yang baik yaitu masa depan khusnul khatimah, masa depan akhirat,” ujar Ustadz Ahmad Hatta saat peresmian pembukaan STIPI Maghfirah dan MA Milbos.
Lalu bagaimana menyiapkan kehidupan yang lebih baik di masa depan di akhirat? Menurut Ustadz Ahmad Hatta, caranya dengan menjadikan orientasi hidup di dunia ini berakhir secara khusnul khatimah. Salah satunya membuat sebuah kegiatan yang hasil dan kebaikannya tidak hanya dinikmati sendiri. Kebaikan dan manfaatnya tidak hanya berakhir di dunia ini. Tapi akan tetap langgeng meskipun kita sudah tidak lagi ada di dunia.
Ustadz Ahmad Hatta mengatakan, ia mendirikan Kampung Maghfirah terinspirasi oleh kisah Siti Hajar yang dengan izin Allah SWT menghadirkan sebuah oase yang dikenal dengan nama Zamzam. Sumur Zamzam, sejak berabad lalu hingga kini, masih terus mengalirkan dan memberikan kebaikan kepada siapa saja mengambil air darinya.
“Kampung Maghfirah ini didekasikan seperti halnya sumur Zamzam yang akan menjadi semacam oase kebaikan, menjadi sumber kebaikan dan terus mengalirkan kebaikan bagi orang lain. Meskipun para donaturnya, para penyumbangnya telah meninggal. Para tenaga pendidik, para dosen dan jamaah yang dengan tulus tanpa pamrih memberikan kontribusinya bagi kemajuan Kampung Maghfirah laksana sumur Zamzam yang kebaikannya terus mengalir,” papar alumnus Pondok Modern Gontor tahun 1988 itu.
Ia menyebutkan, Sekolah Tinggi Ilmu pendidikan Islam Maghfirah hadir untuk mempersiapkan para guru/pendidik yang berkarakter kuat, berdedikasi, siap mengabdi dan siap menjadi panutan bagi peserta didik yang diajarnya. “Inilah yang diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang tertuang dalam sabda beliau: ”Innama buitsu mu’alliman” (sesungguhnya aku diutus untuk menjadi pendidik),” ujar Ustadz Ahmad Hatta.
STIPI Maghfirah hadir untuk mempersiapkan para pendidik yang tidak hanya kompeten di bidang keilmuan yang menjadi keahliannya. Tapi lebih dari itu, mempersiapkan mereka menjadi para pendidik yang memahami ilmu agama secara baik dan memadai. Sehingga mereka menjadi sosok pendidik ideal yang tidak hanya dapat mengajarkan kebaikan tetapi lebih utama menjadi pelaku kebaikan itu sendiri.
Kehadiran STIPI Maghfirah yang melengkapi jenjang pendidikan yang ada sebelumnya seperti layanan pendidikan anak usia dini hingga layanan pendidikan bagi orang dewasa dan lansia, Menteri Agama menyebutkan, hal ini merupakan ikhtiar yang selaras dengan ungkapan uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi. Carilah ilmu pengetahuan dari mulai buaian hingga ke liang lahat.
Terinspirasi dengan istilah Maghfirah yang melekat pada nama Kampung Maghfirah, Menag menyampaikan harapannya agar kita semua menjadi manusia yang penuh maghfirah, penuh permaafan. “Ajarilah masyarakat untuk menjadi umat yang saling memaafkan, saling berlapang dada dan penuh kedamaian. Bukan menjadi umat yang pendendam, umat yang saling memarahi, apalagi saling mencaci yang membuat ketidaknyamanan. Islam agama yang sangat luar biasa mengajarkan kedamaian dan toleransi,” ujar Menag ketika menyerahkan Surat Keputusan Izin Pendirian STIPI Maghfirah dan Madrasah Aliyah Milbos (Maghfirah Islamic Leadership Boarding School).
Profil Singkat Kampung Maghfirah
Kampung Maghfirah yang mengusung tagline: “Kampung Maghfirah: Mendidik Umat, Membangun Bangsa, Menuai Kejayaan Dunia-Akhirat, ini memiliki unit pendidikan sebagai berikut:
- Pendidikan Anak Usia Dini/TK Alquran (dalam proses)
- Madrasah Ibtidaiyah (dalam proses)
- Madrasah Tsanawiyah Milbos (Maghfirah Islamic Leadership Boarding School); Jumlah siswa kelas 7 dan 8 ada 180 siswa. Telah memiliki izin operasional yang dikeluarkan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat.
- Madrasah Aliyah Milbos (Maghfirah Islamic Leadership Boarding School), sudah memiliki izin penyelenggaraan pendidikan. Menerima peserta didik baru mulai tahun pelajaran 2021-2022
- Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan Islam (STIPI) Maghfirah, saat ini baru mengelola satu program studi, yaitu Manajemen Pendidikan Islam. Jumlah mahasiswa 300 orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Semuanya tinggal di asrama, bebas uang makan dan uang kuliah. Jumlah pendaftar tahun ini sekitar 1.500-an. Melalui seleksi yang ketat akhirnya diterima 250 mahasiswa.
- Pendidikan untuk Orang Dewasa hingga Lansia. Program Mabit dilaksanakan setiap akhir pekan dua kali dalam sebulan. Para peserta menginap di Kampung Maghfirah dengan kegiatan-kegiatan ibadah shalat tahajud berjamaah, kajian tafsir tematik, dzikir pagi dan petang.
- Fasilitas Kampung Maghfirah: Masjid yang menampung sekitar 1.000 jamaah. [Fachrur Razi Amir]























