Masjid Agung Palembang yang terletak di Jl KH Faqih Usman, Palembang, merupakan masjid terbesar di kotanya. Konon, saat itu bangunan masjid ini menempati urutan terbesar di Nusantara selama beberapa tahun.
Awalnya, luas bangunan masjid hanya 1.080 meter2 dengan daya tampung 1.200 jamaah. Lantas terjadi perluasan dan perbaikan dari pemerintah setempat. Bahkan pernah pula dilakukan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1819 dan tahun 1821.
Perluasan pertama masjid dilakukan dengan wakaf dari Sayid Umar bin Muhammad Assegaf Altoha dan Sayid Achmad bin Syech Sahab di bawah pimpinan Pangeran Nataagama Karta Mangala Mustafa Ibnu Raden Kamaluddin.
Pada tahun 1966-1969, Yayasan Masjid Agung juga melakukan pembangunan lantai kedua. Sehingga luas masjid menjadi 5.520 m2 dengan daya tampung 7.750 orang. Pada renovasi dan pembangunan tahun 1970-an oleh Pertamina, dilakukan juga pembangunan menara dengan bentuk seperti sekarang ini.
Masjid Agung Palembang terletak pada lahan seluas ± 15.400 m2, dengan arah masjid menghadap ke selatan (Sungai Musi). Luas halaman masjid ± 2.250 m2 dan biasa dipergunakan untuk Shalat Jumat dan Shalat Hari Raya (Shalat Ied).
Masjid Agung ini didirikan pertama kali oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo sejak tahun 1738 sampai tahun 1748. Status kepemilikan Masjid Agung Palembang hingga sekarang dikelola oleh Yayasan Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin.
Arsitektur Masjid Agung Palembang terlahir dari hasil perpaduan tiga budaya yakni, Indonesia, China, dan Eropa. Alasannya, karena adanya keterlibatan arsitek Eropa. Sehingga beberapa bahan bangunannya diimpor dari sana.
Sedangkan nuansa Cina dapat ditemui di atap berbentuk limas dengan bagian ujungnya melengkung ke atas yang menyerupai kelenteng. [Edithya Miranti/Rus]




















