Bangsa Indonesia merupakan bangsa besar yang diraih dengan perjuangan para santri dan ulama. Namun saat ini, bangsa besar ini sedang menghadapi persoalan yang sangat kompleks. Dibutuhkan solusi yang tepat untuk mengatasinya, dan Gontor telah menawarkan solusi tersebut melalui Panca Jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor.
Pondok Gontor yang berusia hampir satu abad itu telah menanamkan Panca Jiwa kepada para santrinya, sehingga Pondok Gontor saat ini telah banyak berkontribusi melalui sumberdaya manusianya di berbagai bidang. Di antaranya ada yang menjadi tokoh nasional, ulama besar, cendekiawan hebat, serta pengusaha-pengusaha sukses yang telah membantu perekonomian bangsa ini.
Banyaknya sumberdaya manusia yang telah memberikan sumbangsih bagi kemajuan bangsa Indonesia tentunya tidak terlepas dari ilmu, pelajaran, dan pengalaman yang diperoleh saat menjadi santri Gontor. Salah satunya penerapan nila-nilai Panca Jiwa tersebut.
Pertama, Jiwa Keikhlasan. Ikhlas untuk berjuang, memberi dan berkarya demi kepentingan masyarakat banyak. Keikhlasan itu tentunya menjadi hal yang sulit dilakukan jika tidak tertanam sejak lama. Keikhlasan itu kunci bagi seseorang yang ingin memberikan kontribusi tanpa mengharapkan imbalan.
Salah satu masalah negeri ini yaitu korupsi. Pangkal dari adanya korupsi hilangnya keihklasan dari diri seseorang, sehingga apa yang dilakukan dan diperjuangkan selalu berharap imbalan-Imbalan atas apa yang telah mereka perjuangkan.
Kedua, Jiwa Kesederhanaan. Kesederhanaan yang ditanamkan Gontor kepada para santrinya menjadi bekal dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, dan dengan kesederhanaan itu juga dapat menjauhkan mereka dari kehidupan hedonis dan materialisme yang saat ini juga menjadi satu dari sekian masalah di Indonesia. Lebih dari itu, jiwa kesederhanaan yang tertanam dalam diri juga dapat menangkal keinginan seseorang untuk melakukan korupsi karena merasa sudah cukup dengan apa yang diperolehnya.
Ketiga, Jiwa Berdikari atau kemampuan untuk menolong diri sendiri yaitu tidak menggantungkan nasib pada orang lain selain kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Selain itu, kemandirian yang ditanamkan pada santri Gontor juga akan membentuk pribadi yang kuat, tidak bersandar pada orang lain yang pada akhirnya akan membuat orang merasa berhutang dan menghalalkan segala cara untuk membalas atau membayarnya.
Keempat, Jiwa Ukhuwwah Islamiyah. Masalah besar lain yang dihadapi bangsa Indonesia yaitu perpecahan. Sebagai negara yang memiliki keanekaragaman suku, bahasa, dan agama, perpecahan di Indonesia sangat rentan. Bahkan sesama Muslim saja, perpecahan kerap terjadi hanya karena perbedaan pendapat atau berikhtilaf pada hal-hal yang kecil.
Untuk itu, dibutuhkan Ukhuwwah Islamiyah yang dapat menghalau perpecahan dan mempererat hubungan sesama manusia dan sesama Muslim pada khususnya. Selain itu, Ukhuwwah Islamiyah juga dapat menghasilkan kebermanfaatan bagi sesama, bisa saling membantu dan saling berbagi informasi kebaikan.
Kelima atau yang terakhir ialah kebebasan dalam berpikir dan bertindak namun tetap pada koridor-koridor yang sesuai dengan syariat agama. Meski kerap disalahgunakan untuk melakukan penyimpangan, berpikiran bebas yang dimaksud dalam Panca Jiwa Pondok Gontor ialah menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi segala kesulitan.
Selain Panca Jiwa, ilmu-ilmu yang diajarkan di Gontor juga merupakan ilmu dasar dalam mempersiapkan generasi terbaik yang dapat mengabdi pada agama, masyarakat dan bangsa. Sehingga, bukan hanya mencetak pribadi yang tangguh dan hebat, namun Gontor juga menghasilkan generasi cerdas yang siap menjadi pemimpin. Tidak hanya di Indonesia namun juga di ranah internasional. []




















