Pennsylvania, Gontornews — Sebuah penelitian yang dirilis oleh jurnal daring Educational Researcher (ER) mengatakan ada ‘kesenjangan’ antara siswa yang mengikuti pembelajaran jarak jauh dengan siswa yang mengikuti pembelajaran tatap muka atau secara langsung. Kesenjangan yang para peneliti temukan terkait dengan kesenjangan secara sosial, emosional dan akademis.
“Banyak berita yang melaporkan kisah siswa sekolah yang menderita kecemasan, depresi serta gangguan kesehatan mental selama pandemi,” kata penulis utama penelitian, Angela L Duckworth.
“Studi ini memberikan beberapa bukti empirik pertama tentang bagaimana pembelajaran jarak jauh telah mempengaruhi kesejahteraan siswa,” imbuhnya sebagaimana dilansir Scitech Daily.
Penelitian ini melibatkan beberapa siswa yang bersekolah tatap muka dan bersekolah jarak jauh. Meski tidak terlalu besar, kesenjangan antara keduanya berkembang secara konsisten ke seluruh jenis kelamin, ras/etnis dan status sosial ekonomi.
Dalam skala 100, siswa yang bersekolah tatap muka memiliki tingkat kesejahteran sosial, emosional dan akademik lebih tinggi daripada mereka yang bersekolah jarak jauh. Untuk kesejahteraan sosial berada di rentang angka 77,2 berbanding 74,8. Kesejaheraan emosional di rentang angka 57,4 berbanding 55,7 dan kesejahteraan akademik berada di angka 78,4 berbanding 77,3.
“Khususnya, kesenjangan yang berkembang lebih besar terjadi pada siswa kelas 10 hingga siswa kelas 12 daripada siswa kelas 9,” kata Laurence Steinberg dari Tempe University.
“Ketika pembuat kebijakan bersiap untuk program bimbingan dan remediasi secara nasional, kita perlu menyadari bahwa siswa kita tertinggal sebagai peserta didik tetapi juga menderita secara manusiawi,” ujarnya.
“Pemenuhan psikologi instrisik, untuk koneksi sosial, emosi yang positf dan keterlibatan intelektual, merupakan tantangan yang tidak bisa kita tunggu,” tambah Steinberg. [Mohamad Deny Irawan]




















