Jenewa, Gontornews — Badan PBB untuk urusan anak, UNICEF, mengatakan lebih dari 100.000 anak pengungsi Tigray, Ethiopia, terancam kekurangan gizi ekstrem selama 12 bulan ke depan. Jurubicara UNICEF, Marixie Mercado, mengonfirmasi hal tersebut.
“Ketakutan terburuk kami tentang kesehatan dan kesejahteraan anak-anak sedang dikonfirmasi,” kata Mercado dalam konferensi persnya.
“UNICEF memperkirakan lebih dari 100.000 anak Tigray dapat menderita malnutrisi akut parah (SAM) yang mengancam jiwa dalam 12 bulan ke depan. Peningkatan sepuluh kali lipat berbanding rata-rata beban kasus tahunan,” ungkapnya sebagaimana dilansir Reuters.
PBB menjelaskan bahwa penyaluran bantuan kemanusiaan ke Tigray terhalang pertempuran pasukan Tigray dan pasukan pemerintah Ethiopia. Akibat pemblokiran tersebut, sektiar 200 truk makanan terjebak di salah satu akses jalur darat yang masih tersedia.
PBB pun bersiap untuk menghelat pembicaraan tingkat tinggi dengan pemerintah Amerika Serikat dan pemerintah Ethiopia dalam beberapa hari mendatang. Namun, waktu pembahasan tidak berpihak kepada mereka yang mencoba untuk mengelola bantuan kemanusiaan.
“Kami membutuhkan akses tak terbatas ke Tigray dan ke seluruh wilayah untuk memberikan dukungan yang anak-anak dan perempuan butuhkan,” jelas Mercado.
Awal pekan ini, badan dunia untuk program makanan, World Food Programme (WFP), menyatakan keprihatinannya terhadap risiko habisnya stok makanan di kamp pengungsian.
Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, menyalahkan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) atas pemblokiran akses yang mereka lakukan. UNICEF menyebut perang saudara tersebut bukan satu-satunya halangan yang mereka hadapi. Lembaga PBB itu juga menghimbau kedua belah pihak untuk tidak menyakiti anak-anak.
“UNICEF menyerukan semua pihak untuk menghormati kewajiban mendasar mereka untuk melindungi anak-anak dari bahaya,”
“Krisis gizi dan ketahanan pangan yang dramatis di Tigray dan daerah sekitarnya didorong oleh konflik bersenjata. Permasalahan itu bisa selesai oleh pihak-pihak yang berkonflik,” tutup UNICEF. [Mohamad Deny Irawan]

















