Bagi kebanyakan masyarakat, nama-nama bulan dalam penanggalan Masehi merupakan rujukan utama dalam setiap kegiatan. Tidak hanya di Indonesia, penanggalan Masehi juga digunakan secara global untuk urusan pekerjaan hingga urusan keagamaan. Sebut saja agenda Natal bagi kalangan Nasrani yang diperingati setiap 25 Desember.
Tetapi, penggunaan kalender Masehi tentu berbeda dengan penggunaan kalender Hijriyah yang dimiliki oleh umat Islam. Selain dapat digunakan sebagai penentu kegiatan maupun pekerjaan rutin, kalender Hijriyah juga berfungsi sekaligus sebagai penanggalan ibadah. Sebut saja, puasa Senin-Kamis, puasa Ramadhan, peringatan Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha atau penentuan tahun baru Islam pada bulan Muharram.
Peneliti Institut of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Adnin Armas, mengatakan bahwa kalender Hijriyah memiliki dimensi teologis karena bersumber dari Al-Qurβan. Pun dengan kalender Masehi yang sangat erat kaitannya dengan nama dewa-dewa dalam mitologi Yunani kuno.
βJauh sebelum Nabi Isa AS, Maret ditetapkan sebagai awal tahun… Namun, seiring perjalanan waktu, ditambahkanlah Januari dan Februari. Seharusnya, Januari diletakkan di bulan ke-11 dan Februari diletakkan menjadi bulan ke-12,β ujarnya.
βNamun, karena Janus merupakan dewa yang merujuk kepada penjaga gerbang, maka Janus diletakkan sebagai awal tahun dan Februari diletakkan selanjutnya,β ungkap Adnin kepada Majalah Gontor.
Wartawan Majalah Gontor, Mohamad Deny Irawan, berkesempatan mewawancarai alumnus International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) Malaysia binaan intelektual Melayu kharismatik, Prof Syed Muhammad Naquib Al-Attas tersebut. Berikut petikan wawancaranya:
Mengapa umat Islam perlu mengetahui perbedaan kalender Masehi dan kalender Hijriyah?
Sangat penting bagi umat Islam mengetahui Kalender Hijriyah karena sesungguhnya pedoman untuk umat Islam melakukan ibadah tidak bisa dipisahkan dari waktu, dan waktu yang dijadikan dasar ibadah tersebut ialah waktu berdasarkan Kalender Hijriyah. Sebagai contoh, umat Islam melaksanakan ibadah haji. Waktu pelaksanaan ibadah haji berdasarkan Kalender Hijriyah. Hari Tarwiyah tanggal 8 Dzulhijjah. Hari Arafah (bagi yang tidak Haji, umat Islam berpuasa Arafah, pada tanggal 9 Dzulhijjah), Hari Idul Adha, tanggal 10 Dzulhijjah, dan Hari Tasyriq tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah. Jika umat Islam tidak tahu penanggalan Hijriyah, bagaimana ibadah haji bisa dilakukan? Begitu juga ibadah lainnya. Puasa wajib bulan Ramadhan. Idul Fitri pasti pada tanggal 1 Syawwal. Puasa ayyamul bidh adalah puasa sunnah di pertengahan bulan-bulan Hijriyah, bukan pertengahan bulan Masehi. Jadi, puasa ayyamul bidh pada tanggal 13, 14 dan 15 bulan-bulan Hijriyah (kecuali bulan Ramadhan). Jika kita tidak tahu Kalender Hijriyah, maka semua ibadah ini tidak bisa dilakukan. Jadi, betapa penting sekali Kalender Hijriyah itu.
Apa yang menyebabkan kalender Masehi lebih digunakan oleh masyarakat dunia saat ini?
Penetapan waktu itu tergantung kesepakatan. Umat Islam menetapkan Kalender Hijriyah. Cina, India, Jawa, suku-suku di Afrika, masing-masing punya penanggalan sendiri yang berbeda antara satu dengan lainnya. Kalender Gregorius pun sebenarnya di Barat tidak serta merta diterima. Rusia baru menerima dan mengimplementasikannya tahun 1918. Gereja Ortodoks masih memakai Kalender Julius. Namun, karena Barat di zaman dunia modern memang mendominasi dunia, akhirnya lambat laun kalender Gregorius (Masehi) ini yang menjadi dominan.
Apa perbedaan antara penanggalan dalam Kalender Hijriyah dengan Kalender Masehi?
Perbedaan terletak pada parameter yang digunakan. Kalender Hijriyah menggunakan perhitungan orbit bulan pada bumi. Sedangkan Kalender Gregorius/Syamsiyyah menggunakan perhitungan pergerakan matahari. Awal hari Hijriyah dimulai saat matahari terbenam. Sedangkan Kalender Gregorius dimulai dari pukul 12 malam.
Dulu awal tahun di beberapa negara Barat bukan 1 Januari. Tapi di bulan Maret. Jumlah hari di Kalender Hijriyah dalam setahun ada 354 atau 355 hari. Sedangkan Kalender Masehi ada 365 hari. Jumlah hari dalam Kalender Hijriyah bisa 29 atau 30 hari. Dalam Kalender Gregorius bisa 31 hari. Nama-nama bulan juga berbeda. Nama-nama bulan dalam Kalender Hijriyah berdasarkan Wahyu. Allah dan Rasul-Nya yang memberi nama-nama bulan tersebut. Nama Bulan Ramadhan disebut dalam Al-Qurβan. Bulan Syawwal, Dzulhijjah disebutkan dalam banyak hadis. Sedangkan nama-nama bulan dalam Kalender Masehi merupakan nama-nama yang berasal dari budaya.
Siapa saja nama dewa dalam mitologi Yunani kuno yang mendasari penamaan bulan dalam Kalender Masehi?
Januari berasal dari nama Dewa Janus, dewa permulaan dan akhir. Februari berasal dari nama Dewa Februus, Dewa Penyucian. Maret berasal dari kata Mars, dewa perang Romawi. April berasal dari nama Dewi Aphrodite atau Apru, Dewi Cinta. Ada yang juga menyebutkan nama April berasal dari kata Latin aperire yang artinya membuka karena melambangkan mekarnya kuncup dan bunga di musim semi. Ada juga yang menyatakan nama April adalah bulan kedua dalam kalender kuno. Mei berasal dari Maia, yaitu Dewi Tanaman yang tumbuh di bumi. Juni dari Juno, ratu para dewi serta pelindung pernikahan. Juli berasal dari Julius Caesar, 44 tahun sebelum Era Bersama. Sebelumnya, Juli disebut quintilis yang artinya kelima. Agustus berasal dari Agustus Caesar, 8 tahun sebelum Era Bersama. Sebelumnya Agustus disebut sextilia yang artinya keenam dalam Bahasa Latin. September berasal dari Bahasa Latin septem yang artinya tujuh. Oktober berasal dari Bahasa Latin octo yang artinya delapan. November berasal dari Bahasa Latin novem yang artinya sembilan. Desember berasal dari Bahasa Latin decem artinya sepuluh.
Dulu, orang Roma memulai awal tahun di bulan Maret. Jadi, jika Maret menjadi bulan pertama, maka September menjadi bulan ketujuh. Oktober menjadi bulan kedelapan. November menjadi bulan kesembilan dan Desember menjadi bulan kesepuluh. Sesuai dengan arti yang terkandung pada kata septem, octo, novem dan decem. Namun, karena orang Roma waktu itu mengubah jumlah bulan dalam setahun menjadi 12 bulan dan meletakkan dewa Janus yaitu dewa penjaga gerbang, sebagai bulan pertama, dan Februari bulan kedua, maka makna angka dalam Bahasa Latin tadi tidak lagi sesuai. September yang artinya tujuh sekarang menjadi bulan kesembilan. Octo yang artinya delapan menjadi bulan kesepuluh. November yang artinya sembilan, menjadi bulan kesebelas dan December yang artinya sepuluh menjadi bulan kedua belas. Semua ini menunjukkan penanggalan Gregorius yang sekarang digunakan merupakan budaya, yang konsep waktunya berubah-ubah.
Mengapa Islam sangat menekankan arti penting waktu dalam Al-Qurβan, Hadis maupun petuah-petuah ulama Muslim klasik?
Allah paling banyak bersumpah atas nama waktu. Dalam Al-Qurβan disebutkan wal asr (demi masa), waddhuha (demi waktu dhuha), wallayli idza saja (demi malam apabila telah sunyi), Β wallayli idza yaghsya wannahari idza tajalla (memi malam apabila menutupi dan siang apabila terang-benderang, dan fala uqsimu bissyafaq (maka sungguh aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja), wallayli wama wasaq (demi malam dan apa yang diselubunginya), wassubhi idza tanaffas (demi Shubuh apabila fajar telah menyingsing), wal fajr Β (demi waktu fajar), dan masih banyak ayat lainnya.
Siapa saja ulama Muslim klasik yang membahas tentang waktu?
Banyak sekali. Mereka membahas baik dalam sains, akidah dan filsafat, fikih dan tasawuf. Fakhruddin ar-Razi termasuk yang banyak membahas tentang waktu. Ada dalam berbagai karyanya seperti al-Matalibul Aliyah minal Ilmil Ilahi (Kesimpulan-kesimpulan Tertinggi dalam Metafisika). Ada juga dalam tafsirnya, al-Tafsir al-Kabir. Selain Fakhruddin ar-Razi, Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, as-Syahrastani, Ibnu Rusyd, membahas persoalan-persoalan terkait waktu, hakikat waktu, dan kaitan antara waktu dengan alam dan sebagainya.
Apa pesan Anda untuk masyarakat?
Umat Islam punya konsep waktu yang terkait ibadah. Waktu merupakan amanah sekaligus anugerah Allah untuk kita gunakan semaksimal mungkin untuk melakukan kebaikan. Para ulama terdahulu telah menorehkan karya yang fantastis dan manfaatnya masih sangat terasa hingga sekarang karena mereka telah menggunakan waktu semaksimal mungkin untuk kebaikan. Demikian juga kita saat ini kalah dalam berbagai lini kehidupan karena kekeliruan dalam menggunakan waktu yang ada. Ini perlu menjadi pembelajaran bagi kita semua. []






















