Seorang pemimpin, ulama, aktivis dan para dai dalam segala langkah dan gerakannya haruslah didasari dengan rasa keikhlasan, kesucian, dan kebersihan niat semata-mata karena Allah SWT. Dalam arti, tidak ada pujian, harta benda, pengaruh, singkatnya tidak ada sekalipun karena manusia, seluruhnya disandarkan pada Allah SWT. Tidak akan bertambah maju seseorang jika banyak pujian dan tidak pula mundur karena banyak celaan dan makian.
Seorang pemimpin patut mempunyai pengaruh yang besar terhadap para rakyatnya. Hal inilah yang mendasari aksi kepatuhan dan loyalitas terhadap pemimpin. Memang, pengaruh merupakan hal positif, tetapi dapat juga menjadi negatif.
Pengaruh yang terdapat dalam jiwa seorang pemimpin yang suci hatinya dan baik budi pekertinya merupakan hal baik. Tapi, jika pengaruh tersebut terdapat dalam diri seorang pemimpin yang zalim dan tidak jujur, maka pengaruh ini merupakan hal yang berbahaya. Karena pengaruhnya itu hanya sebagai alat untuk memenuhi isi perut, mempertebal kantong, dan menuruti ketamakannya.
Sejatinya, pengaruh itu lahir dengan sendirinya, bukan dicari-cari. Seorang pemimpin akan mendapatkan pengaruh tersebut jika memenuhi persyaratan menjadi seorang pemimpin. Datangnya pengaruh ini seperti datangnya hal gaib, yang datangnya karena kekuatan. Keikhlasan hati yang disertai dengan keimanan yang penuh.Β
Kasih Sayang
Rasa kasih sayang kepada rakyatnya pun harus dimiliki. Karena sinarnya hati dalam kasih sayang itu dapat memberikan petunjuk yang benar. Sikap pemimpin yang demikian itu, akan membuahkan rasa sayang juga dari para rakyat yang dipimpinnya.
Jika rasa sayang rakyat kepada sudah terpupuk, maka anjuran dan peraturan yang disampaikan oleh pemimpin akan selalu diindahkan dan akan berbuah sesuatu yang dipimpinnya. Tetapi, jika rasa sayang terlampau lebih besar maka akan berbahaya. Yang dipimpin akan mati otaknya, buta pikirannya, tersumbat angan-angannya, tidak tahu apa yang harus dikerjakan, tidak tahu keperluan, tidak tahu kepentingan, jika belum ditunjukkan oleh pemimpin. Inilah yang harus diperhatikan oleh para pemimpin, yakni menaruh dan meletakkan rasa kasih sayang harus dengan bijaksana.
Β Diktator
Kepercayaan, loyalitas, dan kepatuhan rakyat kepada para pemimpinnya dapat menjadi bumerang pemimpin itu sendiri dalam memimpin rakyatnya. Sikap kekuasaan mengatur, menyuruh, membebankan pekerjaan kepada rakyat dapat menghiasi pola kepemimpinannya.
Diktator, istilah yang tepat untuk tipe pemimpin seperti ini. Kekuasaan, keselamatan, dan kemajuan bangsa hanya berada di tangan orang-orang berpengaruh ini saja. Bukannya memberi saran kepada pemimpin untuk kemajuan bersama, malah menunggu perintah untuk dikerjakan. Tanpa itu, mereka tidak bekerja. Hal ini banyak terjadi di berbagai penjuru dunia. Tidak ada lagi musyawarah untuk mencapai mufakat. Adanya keputusan mutlak dari pemimpin.
Bukannya di al-Qurβan surat Asy-Syura ayat 38 telah dijelaskan: βDan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.β Oleh karena itu, perhatikan dan berhati-hatilah dengan persoalan tersebut. Sehingga kiranya dapat bergerak untuk menuju ke arah kemuliaan dan kemakmuran tanah air, bangsa dan agama. []






















