Pondok Modern Darussalam Gontor Putri di Desa Sambirejo Kecamatan Mantingan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, sudah lebih dari tiga dekade berdiri. Berjarak sekitar 100 km dari Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Putra Kampus 1 Ponorogo, kampus putri 1 ini mulai dibuka oleh Pimpinan PMDG pada tahun ajaran 1410-1411 H.
Menengok kembali sejarah awal berdirinya PMDG, jauh sebelum PMDG Putri Sambirejo, Mantingan, Ngawi, Jawa Timur berdiri, penerimaan santri putri sebenarnya sudah dilakukan sejak awal Pondok Gontor Baru dirintis. Saudara sulung KH Imam Zarkasyi dan KH Zainuddin Fannani, yaitu KH Ahmad Sahal, melalui program pendidikan yang dirintisnya, baik santri putra maupun putri seluruhnya diterima untuk belajar di Pondok Gontor. Pada masa awal berdirinya PMDG, penyadaran terhadap pemahaman dan pelaksanaan ajaran agama menjadi tujuan utama KH Ahmad Sahal mendirikan Tarbiyatul Athfal pada tahun 1926.
Berkat kesungguhan, kesabaran dan keikhlasan Kiai Ahmad Sahal, perkembangan demi perkembangan mulai menampakkan hasil. Pada tiga tahun pertama berdirinya Tarbiyatul Athfal, misalnya, para santri yang belajar mencapai 300 orang. Perkembangan selanjutnya terlihat ketika Pondok Gontor Baru berusia tujuh tahun, jumlah santrinya mencapai 500 santri putra dan putri. Selain itu jika pada masa awal berdirinya, Tarbiyatul Athfal masih terbatas pada aktivitas mengumpulkan anak-anak desa untuk mengajari mereka tentang cara membersihkan diri dan menutup aurat, dalam satu dasawarsa kemudian lembaga ini berhasil mencetak para kader Muslim dan mubaligh yang tersebar di sekitar Gontor.
Dengan ditangani para kader yang telah disiapkan secara khusus melalui kursus pengaderan, cabang-cabang Tarbiyatul Athfal mulai berdiri di desa-desa sekitar Gontor. Di samping membantu pendirian madrasah-madrasah Tarbiyatul Athfal, mutu Tarbiyatul Athfal di Gontor juga ditingkatkan agar lulusannya memiliki kemampuan yang memadai untuk ikut berkiprah membina beberapa Tarbiyatul Athfal cabang yang ada. Untuk itu pada tahun 1932 dibukalah jenjang pendidikan di atas Tarbiyatul Athfal yang diberi nama Sullamul Muta’allimin. Kehadiran Tarbiyatul Athfal dan Sullamul Muta’allimin telah menggugah masyarakat untuk belajar.
KH Imam Zarkasyi, adik KH Ahmad Sahal, sekembalinya dari menuntut ilmu di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan di Jawa dan Sumatera, pada tahun 1935 mulai ikut membenahi pendidikan di Pondok Gontor. Pada peringatan “10 Tahun Pondok Gontor”, tercetus nama baru untuk Pondok Gontor, yakni Pondok Modern Gontor. Kata “modern” ini sebutan dari masyarakat yang kemudian melekat pada Pondok Gontor yang nama aslinya “Darussalam” yang berarti “Kampung Damai”.
Acara kesyukuran 10 tahun ini menjadi makin sempurna dengan diikrarkannya pembukaan program pendidikan baru setingkat Tsanawiyah dan Aliyah yang diberi nama Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) pada 5 Syawwal 1355 H (19 Desember 1936). Program pendidikan baru ini ditangani oleh KH Imam Zarkasyi, yang pernah memimpin sekolah serupa di Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Bersamaan dengan itu, program pendidikan untuk santri putri sementara ditiadakan hingga kampus putri yang lokasinya terpisah jarak 100 km dari PMDG kampus putra 1 berhasil didirikan.
Salah satu guru PMDG yang pernah ikut serta dalam proses pembangunan PMDG putri, Ustadz Noor Syahid MPd, menjelaskan Gontor sama sekali tidak menolak santri putri. Jauh sebelum PMDG putri kampus 1 Mantingan, berdiri, sebenarnya PMDG sejak masa awal berdirinya sudah menerima santri putri pada tahun 1926-1936, yakni ketika PMDG masih menggunakan Tarbiyatul Athfal (TA) sebagai program pendidikannya.
Menurutnya, Gontor Putri berdiri atas cita-cita Trimurti (Pendiri Pondok Modern Gontor) yang diwasiatkan pada generasi penerus. “Sebelum KMI yaitu ketika masih TA, di Gontor sudah ada santri putri. Setelah diganti menjadi KMI, santri putri sementara waktu diliburkan, hingga kampus putri yang jaraknya 100 km dari Pondok Gontor Putra didirikan. Setelah 54 tahun, akhirnya program pendidikan untuk santri putri dibuka di Mantingan, Ngawi,” ungkapnya kepada Majalah Gontor.
Menjelang tahun 1990-an, saat kepemimpinan PMDG beralih ke generasi kedua, yaitu di bawah kepemimpinan KH Shoiman Lukmanul Hakim, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, dan KH Hasan Abdullah Sahal, eksistensi PMDG terus berkembang. Pada tahun 1990 misalnya secara bertahap pembangunan Pondok Cabang Gontor mulai dilakukan. Salah satunya dilakukan dengan mendirikan PMDG Putri kampus 1 di tanah wakaf dari keluarga besar H Anwar Shodiq di daerah Mantingan, Ngawi, Jawa Timur.
Sebelumnya lokasi tersebut rencananya digunakan untuk Fakultas Syariah Institut Pendidikan Darussalam (sekarang Universitas Darussalam). Setelah beberapa kali musyawarah akhirnya diputuskan lokasi itu untuk pondok putri yang dibuka pada tahun 1990. Pendirian pondok putri ini juga didukung oleh usulan dari peserta silaturrahim Kiai Alumni PMDG dalam sidangnya pada Muharram 1410, dan usulan Musyawarah Besar (Mubes) IKPM V di PMDG pada 16-17 Rabiul Tsani 1409.
Untuk mempersiapkannya diadakanlah beberapa kegiatan, antara lain: pembangunan gedung sejak 26 September 1988, penyelenggaraan pesantren kilat bekerjasama dengan Pusat Latihan Manajemen dan Pengembangan Masyarakat (PLMPM) bagi para siswa SLTP/SLTA pada 24-31 Desember 1989, penetapan Direktur Kulliyatul Mu’allimat al-Islamiyyah (KMI), para pendidik dan pengajarnya, pengadaan Pesantren Ramadhan Khusus Putri pada 1410, dan yang terakhir pembukaan pendaftaran santri baru pada Syawwal 1410.
Sistem PMDG Putri sepenuhnya mengacu pada sistem pendidikan KMI PMDG Putra; baik dalam jenjang pendidikan maupun kurikulumnya, demikian pula dengan aktivitas dan program-programnya dengan penyesuaian pada muatan lokal dan penekanan pada pembekalan santriwati untuk menjadi wanita shalihah. Di luar kelas, santriwati mendapat bimbingan, pengajaran, dan pengembangan diri secara intensif oleh Pengasuhan Santriwati yang bertanggung jawab menangani berbagai aktivitas ekstrakurikuler yang meliputi keorganisasian, kepramukaan, bahasa, disiplin, olahraga, keterampilan, kesenian, akhlak, ibadah, nisaiyat, dan berbagai aktivitas keputrian lainnya.
Berbagai aktivitas ini, dengan beberapa modifikasi dan inovasi, juga mengacu pada aktivitas yang diselenggarakan Pengasuhan Santri di PMDG yang tentu saja dengan beberapa penyesuaian untuk santri putri. Tepat pada 10 Syawwal 1410 (5 Mei 1990) pendaftaran santriwati baru KMI PMDG Putri dibuka. Di awal berdirinya PMDG Putri menerima 298 siswi dari 308 pendaftar dan melibatkan 18 tenaga pengajar yang sekaligus berfungsi sebagai pengasuh dan pembimbing di dalam asrama. Baru kemudian pada 6 Dzulqa’dah 1410 (31 Mei 1990), PMDG Putri diresmikan pembukaannya oleh Menteri Agama Republik Indonesia, H Munawir Syadzali MA.
Dalam perkembangan selanjutnya kebutuhan untuk asrama dan kelas terus meningkat seiring jumlah santriwati yang terus meningkat di tahun-tahun berikutnya. Kini, selain di Ngawi, kampus PMDG Putri juga ada di Kediri, Konawe Selatan, Poso, Lampung Timur, dan Riau. Hingga tahun 2021, selain terdapat kampus Universitas Darussalam Gontor di Siman, Ponorogo, Jawa Timur, dan kampus Pascasarjana Putri Universitas Darussalam Gontor di Mantingan, Ngawi, Jawa Timur, PMDG memiliki 20 Pondok Cabang: 12 Pondok Cabang Putra dan 8 Pondok Cabang Putri.
“Hingga September 2021 jumlah santriwati yang belajar di PMDG Putri 1 sebanyak 4.678 siswi, PMDG Putri 2 ada 2.790 siswi, PMDG Putri 3 ada 3.238 putri, PMDG Putri 4 ada 535 siswi, PMDG Putri 5 ada 2.211 putri, PMDG putri 6 ada 295 siswi, PMDG Putri 7 ada 1.286 siswi, PMDG Putri 8 ada 472 siswi,” beber Ustadz Noor Syahid. []





















