Washington, Gontornews – Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap empat Warga Ukraina lantaran dituduh bekerja untuk Rusia. Keempat orang tersebut adalah Taras Kozak dan Oleg Voloshyn yang merupakan anggota parlemen Ukraina serta Vladimir Sivkovich dan Volodymyr Oliynyk yang keduanya adalah mantan pejabat.
Dalam sebuah pernyataan yang dilansir Aljazeera.com, keempat orang tersebut dituduh bekerja untuk Rusia untuk mengacaukan Ukraina. Mereka bekerja dengan Badan Intelijen Rusia untuk mengacaukan kondisi Ukraina sebelum akhirnya akan melakukan serangan menginvasi negara tersebut.
“Tindakan ini bermaksud untuk menargetkan, menyoroti, dan melemahkan upaya destabilisasi Rusia yang sedang berlangsung di Ukraina,” kata Departemen Luar Negeri dalam sebuah pernyataan, Kamis (20) kemarin.
Dalam pernyataan tersebut, dijelaskan bahwa tindakan AS dan sekutunya adalah upaya untuk menjaga stabilitas Ukraina. Selain itu juga menegaskan Rusia jika benar-benar akan melakukan invasi ke Ukraina maka dipastikan Moskow akan mengalami ekonomi dan system keuangan yang tidak baik bagi Rusia.
Pernyataan itu juga menjelaskan tugas-tugas keempat orang Ukraina yang dijatuhkan sanksi yaitu Kozak yang merupakan salah satu dari dua anggota parlemen Ukraina saat ini dituduh bertugas menyebarkan disinformasi melalui beberapa saluran berita yang ia kendalikan di Ukraina.
Kemudian Voloshyn berperan dengan aktor Rusia untuk melemahkan pejabat pemerintah Ukraina dan mengadvokasi atas nama Rusia, sedangkan Oliynyk telah bertuga mengumpulkan informasi tentang infrastruktur penting di Ukraina atas nama Rusia.
Sementara itu, Sivkovich, ia bekerja dengan jaringan aktor intelijen Rusia untuk melakukan operasi pengaruh, termasuk upaya untuk membuat Kyiv secara resmi menyerahkan Krimea ke Moskow.
Untuk sanksi yang dijatuhkan tersebut berupa membekukan aset individu yang ditargetkan di AS dan dilarang untuk melakukan bisnis dengan orang AS dengan mengatakan bahwa menjalankan bisnis dengan mereka adalah sebuah kejahatan.
Sebelumnya, Pemerintahan Biden telah menyebut potensi invasi Rusia ke Ukraina sebagai invasi lebih lanjut, sebab sebelumnya Rusia telah mencaplok Semenanjung Krimea Ukraina pada 2014 lalu dan tak lama kemudian mendukung pemberontakan separatis di timur negara itu.
Selain itu, Militer Rusia juga telah mengumpulkan pasukan di dekat perbatasan negara itu dengan Ukraina, memicu kekhawatiran AS dan Eropa bahwa Rusia mungkin bersiap untuk invasi yang akan segera terjadi terhadap tetangganya.
Washington sendiri telah memperingatkan Moskow tentang konsekuensi besar jika melakukan serangan.
Sementara itu, Rusia telah membantah bahwa mereka berencana untuk menyerang Ukraina, tetapi dengan keras menentang upaya negara itu untuk bergabung dengan NATO. Moskow sedang mencari jaminan keamanan bahwa aliansi militer yang dipimpin AS akan menghentikan ekspansi ke timur, yang merupakan wilayah bekas republik Soviet namun permintaan itu ditolak Washington.
Pembicaraan antara pejabat AS dan Rusia serta negosiasi terpisah antara Rusia dan NATO awal bulan ini telah gagal dan menemukan kebuntuan. Para pejabat AS mengatakan mereka terus mencari diplomasi dengan Rusia untuk mengakhiri krisis.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken rencanya akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di Jenewa pada hari Jumat (21/1) ini. Blinken telah memperingatkan bahwa setiap tindakan agresi baru dari Rusia terhadap Ukraina akan mendapat tanggapan yang cepat, keras, dan bersatu dari AS dan mitranya.[Devi]


















