Lviv, Gontornews — Invasi Rusia di Ukraina memasuki pekan ketiga pada Kamis (10/3/2022). Selama invasi tersebut, belum ada tujuan yang tercapai ataupun terealisasi. Bahkan, ribuan orang tewas, lebih dari dua juta orang menjadi pengungsi dan ribuan orang terpaksa meringkuk di kota-kota yang terkepung di bahwa situasi pemboman setiap hari.
Ukraina menuduh Rusia melakukan genosida setelah mengebom sebuah rumah sakit anak-anak di Kota Mariupol. “Negara macam apa ini, Federasi Rusia, yang takut pada rumah sakit, takut pada rumah sakit bersalin, dan menghancurkannya?” kata Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, dalam pidato yang disiarkan televisi Rabu malam, sebagaimana dilansir Reuters.
Tetapi, Rusia menolak laporan tersebut seraya menyebut laporan tersebut sebagai βberita palsuβ karena bangunan tersebut bekas rumah sakit bersalin yang telah lama diambil alih oleh pasukan. “Begitulah berita palsu lahir,” kata Dmitry Polyanskiy, wakil tetap pertama Rusia untuk PBB, di Twitter.
Sejatinya, invasi Rusia di Ukraina untuk menghancurkan militer negara tetangganya tersebut serta menggulingkan pemerintahan terpilih yaitu Presiden Volodymyr Zelensky. Namun, usaha tersebut buntu karena Zelenskyy mendapatkan bantuan militer dari perbatasan Polandia dan Romania, alih-alih posisinya tergoyahkan.
Kementerian Pertahanan Inggris, Kamis, mengatakan bahwa pasukan besar Rusia dibarat laut Kyiv terus menderita kerugian dan hanya menghasilkan sedikit kemajuan saja. Inggris menyebut jika korban terus meningkat, Presiden Vladimir Putin harus menarik seluruh pasukannya dan mengganti seluruh kerugian yang terjadi.
Berbeda dengan Ukraina, Presiden Putin mengatakan kemajuan pasukannya berjalan sesuai rencana dan jadwal. Rusia menyebut serangannya di Ukraina sebagai βoperasi khususβ untuk melucuti senjata tetangganya dan mengusir para pemimpin yang mereka sebut sebagai βneo-naziβ. [Mohamad Deny Irawan]


















