Brussels, Gontornews — Rusia menempatkan dunia pada risiko kelaparan melalui blokade pengiriman biji-bijian dari Ukraina dan pembatasan ekspornya sendiri, kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell, Sabtu (18/6).
Arabnews.com melansir, ancaman terhadap ketahanan pangan dan “pertempuran narasi” dengan Rusia mengenai sanksi yang dijatuhkan Barat terhadap Moskow akan mendominasi pembicaraan para menteri luar negeri Uni Eropa di Luksemburg pada hari Senin.
“Kami siap bekerja dengan PBB dan mitra kami untuk mencegah dampak yang tidak diinginkan pada keamanan pangan global,” kata Borrell dalam sebuah artikel yang diterbitkan di blog resminya.
Menurutnya, Rusia dengan sadar ‘mempersenjatai diri’ dengan ekspor biji-bijian dan menggunakannya sebagai alat pemerasan terhadap siapa pun yang menentang agresinya di Ukraina.
“Rusia mengubah Laut Hitam menjadi zona perang, memblokir pengiriman biji-bijian dan pupuk dari Ukraina dan juga mempengaruhi pengiriman dari pedagang Rusia. Rusia juga menerapkan kuota dan pajak pada ekspor biji-bijiannya,” tambahnya.
Sanksi yang dijatuhkan oleh UE “tidak melarang Rusia untuk mengekspor barang pertanian apa pun, pembayaran untuk ekspor Rusia tersebut, atau penyediaan benih, asalkan individu atau entitas yang terkena sanksi tidak terlibat.”
“Kami sepenuhnya menyadari bahwa ada ‘pertempuran narasi’ seputar masalah sanksi ini,” lanjut Borrell.
Dia menambahkan bahwa sangat penting ekspor Ukraina diizinkan untuk dilanjutkan dengan kapal.
“Kami bekerjasama dengan PBB dalam masalah ini dan UE serta negara-negara anggotanya siap untuk berperan dalam tindakan yang diperlukan untuk mencapai hal ini.
“Kami berharap solusi dapat ditemukan dalam beberapa hari mendatang. Jika solusi tidak ditemukan, maka bencana pangan global akan mengancam,” dia memperingatkan.[]




















