Jakarta, Gontornews — Media sosial belakangan ini tengah diramaikan dengan kasus penembakan Brigadir Joshua oleh para oknum yang merupakan aparat kepolisian. Menyikapi hal tersebut, di hadapan ribuan jamaah yang memenuhi Masjid Istiqlal pada Ahad (14/8/22) KH Abdullah Gymnastiar menyampaikan, “Jangan terlalu sibuk, baca soal penembakan, tapi lupa membaca al-Qur’an.” Kita baca juga tidak menyelesaikan masalah, sentilnya, kecuali kita baca pakai hikmah.
Lantas apa hikmah di balik kasus penembakan ini? Penceramah yang biasa disapa Aa Gym ini kemudian menekankan bahwa hikmahnya pertama, tidak ada yang tersembunyi bagi Allah. Sebab setiap kejadian, Allah Maha Melihat segalanya.
Kedua, apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan akan ada jalannya. Tidak ada satupun orang yang jago berbohong. Kita bohong, orang lain tidak tahu, bukan berarti jago, tapi itu karena Allah belum membuka kebohongannya.
“Makanya jangan suka bohong dan hendaklah kita menjadi orang yang jujur karena dari situ menghadirkan kebaikan dan mengantarkan kita ke surga,” tambah ustadz kelahiran 29 Januari 1962 tersebut dalam sebuah acara ODOJ (One Day One Juz) Bangun Negeri yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Kita ini akan usah menjadi orang baik, kalau tidak jujur. Sebab perkara dusta ini akan mengantarkan pelakunya pada kejahatan-kejahatan selanjutnya dan membawanya ke neraka. Jadi kalau Indonesia ini ingin menjadi baik, maka harus jujur dulu. Kalau masih banyak yang korupsi, tidak jujur, maka Indonesia masih jauh dari kata baik.
Hikmah ketiga, mengangkat dan menurunkan orang itu adalah kekuasaan Allah. “Engkau (Allah) berikan kekuasaan dan ambil kekuasaan dari siapa yang dikehendaki. Engkau memuliakan dan menghinakan dari siapa yang dikehendaki,” terang Aa Gym.
Jika seseorang dikasih jabatan dan sikapnya jujur, maka ia akan diberi kemuliaan. Oleh karenanya, jika diberi jabatan, jangan dulu bangga, karena itu belum selesai, itu baru ujiannya.
Kita doakan bersama sebab polisi itu bagian dari kebersamaan kita dalam bernegara. Tidak ada yang sempurna sebagaimana kita. Sekarang polisi lagi diuji. Memang susah ‘menyapu’ kalau sapunya ‘kotor’. Mau tidak mau kita bantu supaya makin lama sapunya makin ‘bersih’, supaya bisa membersihkannya.
Ini pasti perlu proses dan kita harus tetap dukung. “Jangan hidup penuh dengan kebencian, karena tugas kita membantu kepada yang lebih baik,” pungkas Pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhiid itu kepada Gontornews.com. [Edithya Miranti]





















