Jenewa, Gontornews — Meski sebelumnya sudah mengumumkan bahwa akhir pandemi Covid-19 berada di depan mata, badan kesehatan dunia, WHO, tetap memperingatkan bahwa situasi kritis masih terjadi. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengingatkan bahwa akhir pandemi Covid-19 sudah di depan mata bukan berarti saat ini ‘kita’ berada di tahap akhir pandemi.
Tedros mengungkapkan bahwa dunia berada di posisi terbaik untuk mengakhiri pandemi. Kesimpulan ini muncul setelah angka kematian mingguan yang terus menunjukkan grafik penurunan. Kini, angka kematian hanya 10 persen dari angka kematian global pada Januari 2021 lalu.
Ia menambahkan bahwa saat ini dua pertiga populasi dunia telah mendapatkan vaksin, termasuk tiga perempat petugas kesehatan dan orang tua.
“Kami telah menghabiskan dua setengah tahun di terowongan yang panjang dan gelap. Kami baru saja mulai melihat cahaya di ujung terowongan itu,” kata Tedros sebagaimana dilansir AFP.
“(Ujung dari terowongan) itu masih jauh. Terowongannya masih gelap dan banyak rintangan yang bisa membuat kita tersandung jika tidak berhati-hati. (Faktanya) kita masih di dalam terowongan,” sambung Tedros.
Dalam laporan epidemiologi terbaru, WHO mengatakan lebih dari 9.800 kematian yang terkonfirmasi pekan lalu. Angka ini turun 17 persen dari pekan sebelumnya. Sementara itu, ada penambahan 3,2 juta kasus Covid-19 baru secara global yang terlaporkan.
WHO telah mengingatkan bahwa penurunan jumlah kasus ini bisa saja menipu. Badan kesehatan PBB itu berdalih, banyak negara yang telah mengurangi pengujian dan tidak mendeteksi kasus yang kurang serius.
Pimpinan teknis WHO untuk Covid-19, Maria Van Kerkhove, memastikan bahwa virus Covid-19 masih beredar pada tingkat yang intens meskipun bersifat variatif. Van Kerkhove juga memastikan bahwa dunia memiliki seluruh alat yang mereka perlukan untuk mengendalikan penyebaran.
“Tujuan kami adalah mengakhiri keadaan darurat di semua negara. Kami akan terus melakukannya hingga tujuan kami tercapai,” kata Van Kerkhove.
Sejak awal pandemi, WHO telah mencatat sekitar 609 juta kasus dengan 6,5 juta kematian akibat Covid-19. [Mohamad Deny Irawan]




















