Wellington, Gontornews — Perusahaan media sosial, Twitter, Senin (28/11/2022), telah menghapus cuplikan serangan Christchurch Selandia Baru pada tahun 2019 yang baru diunggah di platform. Sebelumnya, Pemerintah Selandia Baru memberi tahu perusahaan tersebut karena gagal mengenali cuplikan tersebut sebagai konten berbahaya.
Kantor perdana menteri Jacinda Ardern melaporkan unggahan pembunuhan 51 jamaah muslim di dua masjid di Christchurch Selandia baru pada 2019 silam. Juru bicara perdana menteri Selandia Baru mengatakan fitur pelaporan Twitter tidak menganggap konten tersebut berbahaya.
Meski demikian, kantor perdana menteri Selandia Baru telah menginformasikan bahwa video tersebut telah dihapus.
βTwitter memberi tahu kami semalam bahwa klip tersebut telah dihapus dan mengatakan mereka akan melakukan penyisiran untuk kejadian lain,β ungkap kantor perdana menteri Selandia Baru sebagaimana dilansir The Guardian.
Pasca serangan teror di Masjid Christchurch, pemerintah Selandia Baru terus berkampanye untuk melawan ekstremisme di laman media sosial. Pendiri Twitter Jack Dorsey mendukung inisiatif tersebut.
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan waktu akan memberi tahu komitmen Twitter perihal penghapusan konten berbahaya. Sementara perusahaan Twitter telah memberi tahu pemerintah bahwa mereka tidak akan mengubah pandangannya tentang keanggotaan di komunitas Christchurch Call.
βKami akan terus mempertahankan harapan bahwa (Twitter melakukan) segala yang mereka bisa untuk menghapus konten itu serta mengurangi konten teroris, konten ekstremis, kekerasan online seperti yang telah mereka lakukan setiap hari,β kata Ardern.
November lalu, Ardern menyebut Twitter telah terlibat dalam Christchurch Call dalam KTT Keamanan Nasional, Disinformasi dan ekstremisme online. Ardern bahkan menyebut Twitter sebagai mitra yang sangat konstruktif. Namun, pengambilalihan perusahan Twitter oleh Elon Musk membuat kemitraan tersebut masuk pada wilayah yang tidak diketahui.
Ardern pun mendesak Musk untuk berpegang teguh pada prinsip transportasi serta berharap Twitter dapat menjadi kekuatan demokrasi serta koneksi untuk menyebarkan kebaikan. Sebaliknya, jika disalahgunakan, Twitter dapat menyebabkan kerusakan yang sangat besar. [Mohamad Deny Irawan]





















