Jakarta, Gontornews — Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, “Tidak ada persahabatan yang lebih besar di antara dua ruh dibandingkan persahabatan di antara pasangan suami istri.” Tafsir Ibnu Katsir 3: 528.
Bagaimana caranya berkomunikasi efektif dan mewujudkan pasangan sebagai sahabat serta menjadi soulmate kita? Mengulik perihal tersebut, Kajian Muslimah Balaikota pada Jumat (9/12/2022) menghadirkan sosok narasumber pilihan yakni Ustadzah Hani Hendayani, selaku Konselor Rumah Konseling Keluarga Indonesia.
Dalam penjelasannya, Ustadzah Hani memaparkan bahwa berdasarkan hasil jajak pendapat situs SheKnows 2010, ada lima hal yang paling sulit dalam pernikahan dan yang menduduki peringkat pertama adalah berbicara dengan pasangan. Data itu menunjukkan bahwa kurangnya komunikasi merupakan salah satu penyebab utama dalam perceraian di Amerika.
Lalu di Jurnal Psychological Review Juli 2000, ditunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan mengatasi stres dengan cara berbeda. Lelaki biasanya lebih milih diam saat menghadapi masalah berat, sedangkan perempuan lebih memilih mencari tempat curhat ke rekan perempuannya. Oleh sebab itu, boleh jadi muncul kesalahpahaman satu sama lain karena pasangan belum memahami karakter masing-masing.
Sebagai seorang istri kita perlu memilih kata-kata yang baik, mempelihatkan sikap yang baik, serta menentukan kondisi yang baik saat akan berbicara dengan pasangan. Sehingga dengan begitu akan terlihat efektifitas pesan yang disampaikan saat berkomunikasi.
βApakah pesannya yang sampai ke suami atau justru gesture (komunikasi yang meliputi gerakan tangan dan tubuh) kita yang justru menjadi pesan utamanya dan melekat ke suami,β terang Ustadzah Hani. Dari sini kita harus pahami, kenapa bisa timbul masalah berkomunikasi dengan suami dan tidak mudah menjadikan suami sebagai seorang sahabat dalam berumah tangga.
Ketika hendak membuka permbicaraan dengan suami, seorang istri juga hendaknya pandai membaca pesan gesture dari pihak suami. Pesan gesture artinya ketika suami mengerutkan kening, memberi jarak saat ada masalah, maka tugas kita adalah bukan memaksa masuk dalam ruang privasi suami. Melainkan sebaiknya kita hadir dengan memberikan secangkir teh atau kopi, sebagai pembuka pembicaraan kalau suami sudah berkenan.
Semoga dengan itu suami merasa kita perhatian, bersimpati, dan berempati kepadanya. Hal itu juga akan menjadi poin plus yang bisa membuat suami membuka pembicaraan kepada kita. βKarena begitu cara komunikasi suami kepada kita dimana tidak selalu berbicara,β tekan Muslimah cantik itu.
Kepada Gontornews.com, ia pun menegaskan, βTak ada satu pun keluarga yang bebas dari masalah karena itu adalah sunnatullah dalam kehidupan.β Namun, tambahnya, jadilah keluarga yang senantiasa bersyukur dan bersabar dalam setiap keadaan. βDalam ketidaksempurnaan setiap anggota keluarga, sempurnakanlah cinta dan tawakkal kepada Allah,β pungkas Ustadzah Hani Hendayani. [Edithya Miranti]






















